Pengertian Nasionalisme
Sejarah Kemunculan Nasionalisme
Pemikiran Nasionalisme
2. Nasionalisme Menyeru kepada Kesyirikan
3. Membebaskan manusia dari Agama
Bersambung....
Dijalan Allah Kami tegak berdiri mencitakan panji-panji menjulang tinggi bukan untuk golongan tertentu semua amal kami, bagi dien ini kami menjadi pejuang sejati, hidup mulia atau mati syahid cita-cita kami
Muhammad Jibriel Abdul Rahman
Alhamdulillah, hari ini, Selasa, 1 September 2009, Akhuna (saudara kita) M Jibriel Abdul Rahman bisa ditemui. Mengenakan kaos putih, celana krem, dengan senyum khasnya, pimpinan Ar Rahmah Media ini menemui rombongan yang dipimpin ayah beliau sendiri, Ustadz Abu Jibriel. Dalam kesempatan singkat tersebut, M Jibriel berpesan agar Arrahmah.com bisa tetap istiqomah memberitakan jihad dan berita dunia Islam. Allahu Akbar!
Dari Mabes Polri Ke Kelapa Dua
Rombongan berangkat dari kediaman Ustadz Abu Jibriel di Komplek Witana Harja, Pamulang sekitar pukul 11 pagi. Dengan dua mobil, rombongan pada awalnya meluncur ke Mabes Polri, Bareskrim, di Jl Trunojoyo No. 3, Kebayoran Baru. Tujuan rombongan sudah pasti ingin bertemu dengan Akhuna, M Jibriel, karena setelah 7 x 24 jam dari ‘penculikan’ beliau pada hari Selasa, 25 Agustus 2009, belum ada kejelasan baik status maupun kondisinya.
Rombongan tiba di Mabes Polri tidak lama setelah adzan zuhur berkumandang. Rombongan mendahulukan untuk sholat berjama’ah dipimpin langsung oleh Ustadz Abu Jibriel, sekaligus menjama’ dan menqoshor sholat. Setelah itu, rombongan ke ruang Bareskrim, dengan puluhan wartawan cetak dan elektronik yang selalu membuntuti. Sayangnya, M Jibriel tidak ada di sana. Ustadz Abu Jibriel tiba-tiba dikontak oleh Kadensus yang memberitahukan bahwa keberadaan M Jibriel ada di Markas Brimob, di Kelapa Dua, Depok. Rombongan pun bergegas menuju ke Kelapa Dua.
Pukul 2 tepat, rombongan berhasil masuk ke Markas Brimob Kelapa Dua yang dijaga sangat ketat, dimana wartawan pun tidak diperkenankan masuk. Setelah ditemui langsung oleh Kadensus di pintu masuk, dan sedikit basa-basi, Ustadz Abu Jibriel beserta istri, dan dua orang lawyer masuk terlebih dahulu untuk menemui Akhuna M Jibriel. Kurang lebih 30 menit kemudian, rombongan kedua menyusul, hingga semua rombongan bisa bertemu dan melihat langsung keadaaan M Jibriel. Alhamdulillah!
Istiqomah, dan Lanjutkan Perjuangan
Rasa haru dan syukur bercampur baur ketika melihat kondisi Akhuna M Jibriel yang sehat wal afiat, tidak kurang suatu apa pun. Wajah beliau cerah dan senyum selalu tersungging di bibirnya. Memang, ketika didekati, di hidung beliau, ada bekas luka, juga di mata sebelah kiri, terlihat lebam. Beliau juga mengiyakan kondisi tersebut dan mengatakan bahwa itu adalah ujian buat dirinya dari Allah SWT. Namun yang mengharukan adalah ucapannya bahwa dia menikmati ujian tersebut, bagaikan menikmati hidangan yang sangat lezat sekali. Itu yang beliau rasakan saat ini, Masya Allah.
Dengan senyum yang khas, beliau juga berpesan kepada Arrahmah.com dan seluruh sahabat-sahabat beliau, agar tetap istiqomah dalam menyuarakan dunia Islam dan jihad, serta tetap berimbang dalam pemberitaan. Dengan wajah ceria, beliau juga masih sempat menanyakan bagaimana kondisi kantor Arrahmah dan para pegawai, serta mendoakan agar mereka baik-baik saja. Setelah 1 jam lebih bersama beliau, rombongan pun harus pamit. Beliau dibawakan Mushaf Al Qur’an dan beberapa keperluan beliau. Ayah dan Ibu beliau berpesan, agar Al Qur’an yang mereka bawakan bisa menemani sepanjang hari, dan menasehati agar beliau selalu menjaga shalat.
Perjuangan & Doa Untuk M Jibriel
Rombongan meninggalkan Markas Brimob Kelapa Dua menjelang sore. Tentu saja, setelah memberi keterangan pers kepada para kuli tinta yang sudah lama menunggu di gerbang Markas Brimob sejak siang. Ustadz Abu Jibriel pun memberikan keterangan pers yang langsung diserbu oleh para wartawan. Ustadz Abu Jibriel menyampaikan apa adanya tentang keadaaan M Jibriel, anaknya, termasuk pemukulan yang dialaminya. Ustadz Abu Jibriel menganggap bahwa itu hak beliau sebagai seorang ayah untuk menyampaikannya.
Status Akhuna M Jibriel juga sudah berubah, menjadi tersangka. Anehnya, kali ini bukan lagi dengan tuduhan terkait dengan aliran dana untuk membiayai terorisme, namun dengan tuduhan lain, yakni tentang menyembunyikan informasi terorisme dan menyembunyikan buronan teroris. Tuduhan lainnya adalah terkait masalah imigrasi atau pemalsuan dokumen perjalanan. Semua tuduhan tersebut tentunya harus dibuktikan, dan bukan asal tuduhan.
Sepanjang perjalanan pulang rombongan tidak pernah lepas dari berdoa dan mempersiapkan perjuangan untuk Akhuna M Jibriel. Meskipun saat ini beliaunya sendiri merasakan ujian tersebut sebagai sesuatu yang ‘lezat’ dan merupakan kesempatan beliau untuk berkhalwat dengan Robbnya, Allah SWT, namun doa dan perjuangan untuk beliau tetap dibutuhkan. Semoga beliau juga tabah dan istiqomah dalam ujian tersebut, tidak bergeming dari jalan dakwah dan jihad, serta tetap dalam lindungan Allah SWT. Amien Ya Robbal Alamien…! (fachry/arrahmah.com)
Mengenal Musuh Allah“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Al Fathir, 35: 6)
Ayat ini dengan jelas menginformasikan kepada kita siapa musuh kita, dia adalah: Syaitan.
Allah Swt. dengan tegas memerintahkan kita untuk menjadikan musuh kita sebagai musuh – tidak berteman atau pun bersekutu. Konsekuensinya, tidak diperbolehkan bagi seorang yang beriman untuk mempunyai rasa simpatik, cinta, kasih sayang, haru atau respek pada musuh-musuhnya. Allah Swt berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu.”
(QS Al Mumtahanah, 60: 1)
Sebagaimana telah diindikasikan pada ayat di atas bahwa Musuh-musuh Allah adalah musuh-musuh kita. Selanjutnya, seorang beriman hanya dibolehkan untuk mencintai orang-orang yang Allah Swt. cintai, dan membenci orang-orang yang Allah Swt. benci.
Sebagai contoh, jika Allah Swt. mengutuk sebuah bangsa atau masyarakat, tidak dibolehkan bagi seorang beriman untuk menuruti atau bersekutu dengan mereka (seperti bergabung dengan polisi mereka).
Lebih lanjut, Syaitan (musuh Allah) bisa dalam dua bentuk yang berbeda. Dia bisa berbentuk jin dan juga manusia (QS An Naas, 114:6). Pada saat Syaitan dalam bentuk jin sangat sulit bagi seseorang untuk melawannya, kecuali tentu saja dia adalah seorang beriman yang benar dan seorang Muwahid.
Namun, pada saat dia berbentuk manusia (yaitu Kuffar) itu lebih mudah untuk mengenalinya dan mempertahankan dirinya dari serangan Syaitan. Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
(QS An Nisaa’, 4: 101)
Berdasarakan ayat di atas, mengambil orang-orang Kafir sebagai musuh adalah kondisi/syarat untuk menjadi seorang Muslim. Ini karena mereka benar-benar menghina Allah Swt. dan selanjutnya, kita harus menghinakan mereka juga – walau pun jika itu terlarang untuk melakukannya. Allah Swt berfirman:
“…sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”
(QS Ali Imran, 3: 32)
Pada saat ini, jika seseorang bertanya, “maukah kamu mengambil Syaitan sebagai teman mu, memberikan suara untuk mereka atau bergabung dengan polisinya?” Dia seharusnya dengan pasti berkata “tidak.”
Namun jika seseorang ditanya dengan pertanyaan yang sama tetapi kata Syaitan diganti dengan “Kaafir”, dia mungkin akan menjawab, “Ya tentu saja! Itu adalah kewajiban bagi kita untuk melakukannya”, bahkan pernyataan ini adalah Kufur dan tidak ada perbedaan yang mutlak antara Syaitan dan Kaafir.
Demikian juga, banyak orang yang percaya bahwa merupakan perbuatan murtad untuk menjadi Mufti dari Syaitan. Tetapi pada saat kata Syaitan diganti dengan Thaghut, bisa saja dibolehkan – walau pun Thaghut adalah kata lain dari Syaitan. Semoga Allah Swt. melindungi orang-orang beriman dari sifat nifaq.
Selanjutnya dalam Islam tidak ada konsep “mencintai musuh mu” (sebagaimana telah diindikasikan pada ayat di atas Al Fatir, 35: 6), selanjutnya, cinta kita pada satu dengan yang lainnya adalah berdasarkan Imaan – bukan pada darah, ras, atau nasionalisme.
Selanjutnya tidak dibolehkan bahkan untuk bersekutu dengan saudaranya atau ayah-nya jika itu berdasarkan kebatilan atau lebih menyukai Kufur di atas Iman. Allah Swt. berfirman:
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudara mu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS At Taubah, 9: 23)
Konsekuensi mengambil Syaitan sebagai sekutu atau teman akan mendapatkan hukuman yang keras sekali dalam Islam. Faktanya dalam aturan Syari’ah, itu adalah perbuatan Riddah (murtad), dan inilah mengapa Rasulullah Saw. dan para Shahabatnya sangat tidak menyukai bersepakat dengan orang-orang yang bersekutu dengan Musyrikin.
Selanjutnya, hanya karena orang kafir adalah musuh kita itu tidak berarti bahwa serta merta kita harus membunuh mereka. Ketika Allah Swt. mengabarkan orang Kaafir sebagai musuh-Nya dan kita, itu dengan tujuan untuk memperingati kita agar tidak mengikuti mereka, meniru atau mendukung mereka.
Orang-orang Kafir adalah “Penghuni neraka”, dan mereka telah mendapatkan kemarahan dan kutukan Allah Swt.; selanjutnya ini adalah sebab mengapa kita meminta kepada Allah 17 kali sehari (ketika membaca Al-Fatihah) agar tidak menjadi seperti mereka.
Pada abad 21 ini tentara salib memerangi Islam dan kaum Muslimin. Musuh-musuh Allah sekarang berusaha untuk memaksa orang-orang beriman untuk mencintai mereka dan ideologi jahat mereka dengan membuat legislasi baru yang akan mencegah kaum Muslimin untuk memenuhi kewajiban mereka dan menganggap Islam menyerukan atau menyebarkan “agama kebencian”.
Selanjutya mereka (orang-orang kafir) juga ingin agar kaum Muslimin tidak memuji atau “memuliakan” individu yang telah memberikan perlawanan atau berjuang melawan musuh-musuh Islam, yakni para mujahid.
Ini karena – disamping mereka menguasai media massa dan menguasai kekayaan- mereka mempunyai trauma kegagalan yang sangat hebat dalam atau untuk mengalahkan pasukan kaum Muslimin.
Jika seorang Muslim tidak lagi bisa memenuhi kewajibannya dalam konsep tauhid yang asasi, yakni al-Wala wal Baraa’ (kecintaan dan kebencian berdasarkan syariat Islam) maka dia harus hijrah di negeri di mana dia bisa melakukannnya.
Pada saat ini, faktanya Yahudi dan Nasrani mengejek Islam, Rasulullah Saw. dan Mujahidin di dalam setiap aspek kehidupan. Ironisnya, kaum Muslimin dilarang untuk membalas mengejek ideologi jahat mereka, dan mengecam tentaranya.
Selanjutnya, seseorang dipuji dan dikagumi karena memanggil tentara-tentara Kuffar sebagai seorang “pahlawan”, tetapi mengutuk habis-habisan mujahidin dan menuduh mereka sebagai teroris, walaupun faktanya tentara-tentara Kuffar dan orang-orang beriman (Mujahidin) keduanya melakukan aksi terror, menghancurkan gedung-gedung dan membunuh “rakyat sipil”.
Wallahu’alam bis showab!