Minggu, 05 Juni 2011

Ketika Yahudi Menado Kian Merekah

Hidayatullah.com–Sebuah tugu baru menjulang setinggi 62 kaki di sebuah puncak dataran tinggi pinggiran kota Menado. Bangunan itu tidak lain sebuah menorah raksasa, yang mungkin ukurannya paling besar di seluruh dunia. Menorah adalah salah satu lambang suci peribadatan Yahudi.

Lama dikenal sebagai daerah yang banyak dihuni penganut dan misionaris Kristen, wilayah tersebut kini semakin banyak menampakkan identitas Yahudi. Dengan restu dari pemerintah daerah setempat, orang-orang keturunan Yahudi Belanda membuat ruang bagi komunitas mereka di kawasan itu.

Bendera-bendera Israel terlihat di pelataran ojek dekat tugu menorah raksasa. Salah satunya terletak di dekat sebuah sinagog yang dibangun sekitar enam tahun lalu. Bintang Daud besar menghiasi langit-langit sinagog itu. Tugu, sinagog dan fasilitasnya semua dibangun dengan biaya dari kas pemerintah daerah.

Sebelum meminta bantuan dari komunitas Yahudi lain di luar Indonesia, kaum Yahudi setempat mempelajari ajaran agama mereka lewat internet. Halaman-halaman Taurat hasil cetakan dari internet mereka kumpulkan. Rekaman video berisi ajaran Yahudi mereka unduh dari YouTube. Mereka bertanya tentang agamanya kepada Rabi Google.

“Kami hanya berusaha menjadi Yahudi yang baik,” kata Toar Palilingan, 27, sebagaimana dikutip The New York Times (22/11). Memimpin sebuah acara makan malam perayaaan Sabbath di kediaman keluarganya, Toar mengenakan pakaian ala Yahudi, dengan topi hitam lebar, kemeja putuh dengan setelan jas warna hitam.

Bersama sekitar sepuluh orang Yahudi, mereka biasanya beribadah di sebuah sinagog peninggalan Belanda di pinggiran kota Menado.


“Tapi jika dibandingkan dengan Yahudi di Yerusalem atau Brooklyn,” kata Toar Palilingan yang kini juga dikenal dengan nama Yaakov Baruch, “kami belum sebanding.”

Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik, namun sejak berpuluh-puluh tahun lalu secara diam-diam pemerintah telah melakukan kerjasama di bidang militer dan ekonomi dengan negara Zionis itu. Beberapa tahun belakangan, para pengusaha dari Israel dan Yahudi dari negara lain secara diam-diam berkunjung ke Indonesia untuk mencari peluang usaha.

Salah satu di antaranya adalah Moshe Kotel. Pria berusia 47 tahun ini lahir di El Salvador namun memiliki kewarganegaraan Israel dan Amerika Serikat. Dia telah mengunjungi Manado setiap tahun sejak 2003 dan memiliki bisnis telur organik. Kotel yang memiliki istri orang Manado mengatakan gugup, ketika pertama kali mendarat di bandara setempat.

“Waktu itu sudah pukul 11 malam. Dan saya membawa tefilin,” cerita Kotel. Tefilin adalah sepasang kotak kulit kecil hitam tempat menyimpan gulungan perkamen berisi ayat-ayat Torah yang biasa dililitkan di tangan dan lengan ketika mereka membaca kitab sucinya.

“Tapi setelah melihat ada bendera-bendera Israel di taksi-taksi bandara, saya selalu merasa diterima di sini,” katanya.

Pemerintah Sulawesi Utara mendirikan tugu menorah itu tahun lalu dengan biaya 150.000 dolar, kata Margarita Rumokoy, kepala Dinas Pariwisata setempat.

Denny Wowiling, seorang anggota DPRD, mengatakan dirinya mengajukan pembangunan menorah itu setelah melihat tugu serupa yang terdapat di depan gendung Knesset di Israel. Katanya, dia berharap tugu itu dapat menarik turis-turis dan pengusaha dari Eropa berkunjung ke daerahnya.

“Agar orang-orang Yahudi melihat bahwa ada simbol sakral ini, simbol sakral mereka, di luar negaranya,” kata Denny yang seorang penganut Kristen Pantekosta.

Dua tahun sebelum menorah raksasa itu didirikan, sebuah developer Kristen juga mendirikan patung Yesus setinggi 98 kaki di puncak sebuah bukit di sana. Ukurannya sekitar 3/4 dari patung Kristus Redeemer yang terkenal dari kota Rio de Janeiro.

Menurut Anthony Reid, seorang pakar masalah Asia Tenggara di Universitas Nasional Australia, pada masa penjajahan Belanda komunitas Yahudi menguasai bisnis di banyak kota dagang di Indonesia. Seringkali mereka menjalani usaha real estate, bertindak sebagai penghubung antara pemerintah kolonial dan penguasa setempat.

Pada masa sebelum kemerdekaan, keluarga keturunan Yahudi Belanda di Menado menjalankan agama mereka secara terang-terangan. Setelah itu mereka pindah agama Kristen atau Islam dengan alasan untuk keamanan.

“Kami menyuruh anak-anak agar jangan pernah bicara tentang leluhur Yahudi kami,” kata Leo van Beugen, 70, yang dibesarkan sebagai pengikut Katolik Roma. “Jadi cucu-cucu tidak tahu.” Van Beugen adalah kakek-pamannya Toar Palilingan.

Baru lebih dari sepuluh tahun lalu, ketika mereka berdebat tentang Bibel dan Musa, nenek-bibinya mengungkap tentang darah Yahudi mereka.

Toar Palilingan yang bekerja sebagai dosen di Universitas Sam Ratulangi, memiliki ayah seorang Kristiani dan ibu seorang Muslim. Mereka juga menjadi dosen di tempat yang sama. Saudara dari keluarga ibunya merupakan keturunan imigran Yahudi Belanda abad ke-19, Elias van Beugen.

Nenek-bibinya menyarankan Toar menemui keluarga Bollegraf, salah satu keluarga Yahudi terpandang di Menado. Oral Bollegraf yang kini berusia 50 tahun, menganut Kristen Pantekosta sepanjang hidupnya, tapi dia tahu bahwa kakeknya adalah orang yang memelihara satu-satunya sinagog di Menado di rumah keluarganya.

“Dulu kami tidak tahu kalau kami Yahudi,” kata Bellograf yang belum lama ini mengunjungi Israel bersama Toar Palilingan. “Tapi semua orang di kota ini mengetahui kami keluarga Yahudi.”

Toar melakukan kontak dengan rabi Mordechai Abergel, seorang utusan gerakan Chabad Labavitch di Singapura. Chabad Lubavitch sendiri bermarkas di Brooklyn, Amerika Serikat. Menurut Abergel, Toar Palilingan telah melakukan sebuah “usaha yang hebat” untuk menyambung kembali akar Yahudinya, meskipun dia belum melakukan perpindahan agama secara penuh.

Untuk menunjukkan komitmennya pada apa yang dia sebut sebagai “kemurnian” ajaran Yahudi ultra Ortodoks, Toar Palilingan kadang mengenakan pakaian khas Yahudi berupa setelan warna hitam putih saat berada di tempat-tempat umum di Menado, bahkan ketika dia berada di Jakarta.

“Kebanyakan orang Indonesia belum pernah bertemu orang Yahudi, jadi mereka mengira saya dari Iran atau tempat lain,” kata Toar. “Suatu kali, sekelompok demonstran Islam datang mendekati dan berkata, ‘Assalamu’alaikum’,” cerita Toar Palilingan.[di/nyt/hidayatullah.com]

Sumber: http://hidayatullah.com/cermin-a-features/f/14348-ketika-yahudi-menado-kian-merekah

Kamis, 14 April 2011

Israel Membombardir Gaza dengan Bom Fosfor


Israel Membombardir Gaza dengan Bom Fosfor


GAZA – Aksi brutal Israel yang terus membombardir Jalur Gaza dalam sepekan terakhir membuat Rumah Sakit Asy-Syifa, Gaza, tak mampu melayani korban yang terus berdatangan. Hingga hari ini, Senin (11/4), tercatat 20 orang gugur dan dan ratusan lainnya luka parah.

Dalam surat elektroniknya yang dikirimkan kepada Republika.co.id, Abdillah Onim (Ketua MER-C Indonesia Cabang Gaza) mengatakan sebagian besar korban luka akibat serangan Israel dalam kondisi kritis. “Mereka akan mengalami cacat seumur hidup, karena kehilangan beberapa anggota tubuh,” ujarnya.

Onim menambahkan, berbagai sumber medis di Gaza mengungkapkan bahwa serdadu Zionis kembali menggunakan senjata kimia terlarang berupa fosfor putih yang pernah digunakan pada 2008 dan 2009 lalu. “Bom fosfor putih sangat berbahaya dan menyebabkan kematian, karena setiap anggota tubuh yang terkena bom itu akan melepuh dan terbakar,” kata relawan MER-C yang hingga kini masih menetap di Gaza ini.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Gaza Basseem Naim, menyatakan Israel telah menggunakan senjata terlarang selama serangan beberapa hari ini. Semua korban yang mengalami cedera terjadi hampir terbakar di seluruh bagian tubuh mereka. “Fakta ini menunjukkan bahwa tentara Zionis telah menggunakan senjata kimia fosfor putih dalam serangkaian serangan ke Gaza,” ujarnya.

Agresi sistematis dan terprogram Israel dilakukan tanpa pandang bulu dengan menargetkan serangan terhadap perempuan, anak-anak dan orang tua. Bahkan serangan Israel juga telah melukai tim medis.

Sebuah mobil ambulans dihajar rudal Israel ketika berusaha mengevakuasi korban. Serangan terhadap ambulans tersebut mengakibatkan tewasnya seorang paramedik, sedangkan pengemudinya dalam keadaan luka parah.

Naim mengaku heran dengan sikap masyarakat internasional yang membisu tatkala Israel secara membantai rakyat Palestina secara brutal. “Kami heran dengan kebisuan masyarakat dunia atas kejahatan Israel tersebut. Sementara mereka menekan Palestina agar tetap tenang dan tidak merespons aksi keji Israel,” kata Naim.

Rakyat Gaza Butuh Rumah Sakit

Selain itu, Naim juga meminta kepada otoritas Mesir, dalam hal ini kementerian kesehatan Mesir agar mau menerima beberapa korban untuk dirawat di Rumah Sakit di Mesir. Hal ini karena terbatasnya sarana dan prasarana yang tersedia di Rumah Sakit di Jalur Gaza. Naim khawatir, jika serangan ini terus berlanjut dan menelan banyak korban, maka Rumah Sakit di Gaza dipastikan takkan mampu menampung jumlah korban yang terus berjatuhan. “Keberadaan Rumah Sakit di daerah konflik seperti Gaza memang sangat mendesak, karena dipastikan korban akan banyak berjatuhan serta memerlukan penanganan segera,” ujarnya.

Oleh sebab itu, lanjut Naim, proyek pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza akan segera dimulai pembangunannya pada April 2011 ini akan sangat bermanfaat bagi para korban perang. Karena RSI ini didesain khusus untuk menangani berbagai korban yang mengalami trauma dan rehabilitasi serta membutuhkan penanganan segera.

Menurut Onim, RSI ini direncanakan akan dibangun dengan kapasitas 100 tempat tidur dengan ruang operasi yang cukup luas. Diharapkan Rumah Sakit yang dibangun dengan dana sumbangan rakyat Indonesia ini bisa membantu para korban perang di Jalur Gaza. “Sehingga mereka tak perlu lagi keluar dari Gaza, serta menempuh jarak yang cukup jauh untuk berobat,” kata lelaki asal Maluku yang baru-baru ini menikah dengan Muslimah Gaza itu. (republika.co.id, 11/4/2011)

Senin, 21 Maret 2011

Kenapa Kaum Yahudi Benci Pohon Zaitun

Kaum Yahudi Menumbangkan Ratusan Pohon Zaitun di Tepi Barat

Oleh: Umar Abdurrahman Hizbullah di AWG (Aqsa Working Group)

Nablus & Hebron (AWG) – Buldoser Israel pada hari Rabu (16/03) menumbangkan dan mencuri pohon zaitun di Desa Beit Dajan, sebuah desa sebelah timur Nablus, menurut saksi mata.

Mereka mengatakan tentara, dengan bantuan dari pemerintahan sipil Israel menyerbu tanah Jamal Abu Kanaan dan mulai menumbangkan pohon-pohon itu.

Lebih dari tujuh kendaraan militer, sebuah buldoser dan sebuah truk yang tergabung dalam aksi pencabutan pohon-pohon zaitun kemudian membawa pohon-pohon tersebut pergi, menurut Nasser Abu Jaish, kepala desa Beit Dajan.

Dia mengatakan bahwa sekitar 150 pohon yang ditumbangkan.

Ini adalah ketiga kalinya buldoser menyerang tanah Abu Kanaan dan menumbangkan pohon-pohon Zaitun.

Pada hari yang sama, Warga desa At-Tuwani, di perbukitan Hebron selatan, Palestina, menduga seseorang telah menghancurkan pohon zaitun mereka di malam hari.

Penduduk desa mengatakan bahwa pelakunya adalah pemukim Israel dari pos ilegal dekat Havat Ma’on.

“Pemukim Israel melakukan ini. … Mereka melakukan ini karena terbunuhnya pemukim Israel di dekat Nablus”, kata Fadil Ahmed Raba’i, mengacu pada pembunuhan baru-baru ini dari lima pemukim di permukiman Israel “Itamar”, di Tepi Barat.

Pohon-pohon yang hancur berusia sekitar 15 tahun dan akan menghasilkan buah zaitun di panen musim gugur. Pohon tersebut milik empat warga dari At-Tuwani.

At-Tuwani sering mengalami pengrusakan di kebun zaitun sejak pembangunan pemukiman Israel “Ma’on” pada tahun 1984. Baru-baru ini, pada tanggal 21 Februari 2011, Raba’i melaporkan bahwa tiga pohon zaitun milik keluarganya telah rusak.

Sejak, pertengahan 1980-an warga Palestina di desa Tuwani dan desa-desa sekitarnya sering menghadapi ancaman dan tindak kekerasan serta intimidasi dari pemukim Israel, namun mereka tetap berkomitmen untuk melakukan perlawanan tanpa kekerasan.

Karena penduduk desa di wilayah ini bergantung pada pertanian lahan kering, agresi yang dilakukan penjajah Israel mengakibatkan kerusakan pada pohon atau tanaman atau penolakan akses terhadap lahan pertanian merupakan ancaman signifikan kepada masyarakat Palestina.

KONSPIRASI DIBALIK PENUMBANGAN POHON ZAITUN DI PALESTINA

Menurut laporan beberapa sumber, pohon Zitun merupakan pohon yang diberkahi. Banyak sekali penyebutan Zaitun di dalam Al Qur’an, Allah Azza wa Jalla bersumpah dengan zaitun tersebut dalam firman Nya: ”Demi pohon Tien dan Zaitun.” (At-Tin 1-2), dan firmanNya dalam surat An-Nuur ayat 35 , ”Dinyalakan (dengan minyak) dari sebuah pohon yang diberkahi, (yaitu) zaitun yang tidak tumbuh di sebelah timurnya dan tidak pula disebelah baratnya, hampir-hampir minyaknya saja menerangi walaupun tidak disentuh api” dan beberapa ayat dalam Al-Quran serta hadits yang meyuratkan kata Zaitun.

Pohon yang keluar dari Tursina, yang menghasilkan minyak dan menjadi kuat bagi yang mengkonsumsinya. hasil zaitun telah memberikan andil istimewa dalam mengangkat tingkat keamanan pangan bagi orang-orang Palestina. Menghadapi berbagai peperangan dan serangan terhadapnya dari penjajah Israel dalam sejarah Palestina yang panjang, pohon zaitun tetap berdiri kokoh dan mengakar di perbukitan dan gunung-gunung Palestina. Pohon zaitun bagi rakyat Palestina merupakan simbol perjuangan dan mengakar di tempatnya. Pohon zaitun bagi mereka juga merupakan simbol keagungan dan kebanggaan di langit, dan simbol perjalanan sejarah di zaman ini.

Insinyur pertanian Muhammad Abdul Halim, warga Palestina asal Nablus, Tepi Barat, menganggap serangan terhadap Pohon Zaitun merupakan “target strategis khusus”. Terlebih hasil Zaitun dari lahan pertanian merupakan salah satu faktor ketahanan pangan Palestina dan juga salah satu bahan konsumsi terpenting bagi warga Palestina, sekaligus salah satu simbol terpenting bagi perjuangan dan pengakaran sejarah di tanah Palestina.

Penjajah Israel sangat memahami akar sejarah dan rahasia kekuatan rakyat Palestina yang sangat sulit ditundukkan. Maka, menghancurkan Pohon-pohon Zaitun, adalah salah satu cara melumpuhkan semangat perjuangan rakyat Palestina. Bagi Israel, selama Zaitun masih tumbuh subur di bumi Palestina, maka mereka terus akan menghadapi pejuang dengan fisik yang tangguh dan semangat yang sangat tinggi. Selama Pohon Zaitun kokoh berdiri maka Israel akan sulit mengalahkan pejuang palestina karena ketahanan pangan dan iman mereka terus terjaga. Bagi Israel, robohnya Zaitun akan berakibat pada terputusnya suplai pangan bergizi, runtuhnya semangat, menurunnya perlawanan dan terkoyaknya sejarah mulia tanah Palestina. (Umar/ M.N./F.J.)

(abu dzakir)

Ini Videonya


KOKAM

KOKAM