Selasa, 30 Juni 2009

Gapai Kejayaan Islam

Memperkokoh Ukhuwah Demi Kejayaan Islam

Umat Islam hari ini semakin terpuruk dalam kondisi yang menyedihkan. Berbagai fitnah dan makar dilontarkan orang – orang kafir yang didukung oleh orang – orang munafik untuk menghancurkan kaum muslimin di seluruh dunia. Bosnia, Checnya, Palestina, Afganistan dan Iraq adalah saksi bagaimana tentara – tentara kafir membantai Muslimin. Begitu juga di negeri ini yang katanya mayoritas penduduknya muslim. Kita masih ingat tentang peristiwa Ambon dan Poso. Pelakunya bukan saja orang kafir, namun sebagian orang islam yang telah hancur loyalitasnya. Umat Islam yang anti peradaban barat, ingin menerapkan Syari’at Islam, akan membangun peradaban Islam, tidak mau memisahkan antara Islam sebagai agama dan negara dan menjadikan sunnah Rasulullah sebagai panduan kehidupan, dicap sebagai Islam garis keras, radikal, dan bahkan dikategorikan sebagai teroris yang ironisnya semua itu diiyakan oleh sebagian besar ummat Islam di negeri ini yang memang telah hancur aqidah dan loyalitasnya.

Sejarah pernah mencatat bahwa di atas bumi ini pernah ada sebuah negeri yang didirikan oleh seorang buta huruf bernama Muhammad saw, Negeri yang kemudian mampu menguasai hampir sepertiga bumi, mengalahkan dua super power masa itu, Romawi dan Persia. Kunci pemersatunya bukan kekayaan alam, bukan kecanggihan teknologi, bukan pula persenjataan yang canggih, tapi ‘sekedar’ keteguhan aqidah, kekuatan ukhuwah dan ketegasan loyalitas. Ketiga kunci inilah yang telah berhasil membawa dunia kepada peradaban manusia yang paling beradab.

Namun, kehormatan dan ‘izzah kaum muslimin hari ini berada dalam kurva yang paling rendah. Tidak ada lagi keberanian dan kegagahan kaum muslimin dalam menghadapi orang kafir dan munafik. Sebaliknya, telah hilang ketakutan dalam diri kaum kafir terhadap kekuatan Islam, sehingga dengan mudahnya mereka melakukan makar. Mereka sadar betul, bahwa inti kekuatan umat Islam, yaitu aqidah, ukhuwah dan loyalitas telah sirna dari diri kaum muslimin.

Generasi awal kaum muslimin telah memberikan contoh betapa eratnya rasa persaudaraan mereka. Sebagai golongan minoritas ditengah mayoritas musrikin Quraisy, mereka merasa bahwa setiap orang yang telah beriman kepada Muhammad saw telah menjadi saudara yang harus ditolong, dibela dan dilindungi. Ikatan persaudaraan mereka bahkan mengalahkan nasab.

Ukhuwah semacam ini juga yang telah memungkinkan Rasulullah saw dan muslimin Makkah untuk hijrah ke Madinah, dan membentuk daulah Islam yang pertama. Rasulullah saw kemudian mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar sebagai satu kekuatan. Sungguh tidak ada ikatan yang paling kuat selain ikatan persaudaraan karena kesatuan aqidah.

Allah I berfirman : “ Dan berpeganglah kamu sekalian kepada agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika dahulu kamu bermusuh-musuhan maka Allah menjinakkan hati kamu, lalu jadilah kamu orang-orang yang bersaudara “. (QS. Ali Imran : 103).

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu (ukhuwah), niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (Al Anfal 73).

Inilah dasar kesatuan dan kekuatan kaum muslimin saat itu. Diantara mereka merasa saling membutuhkan, memberi dan menerima, melindungi dan membela. Hingga Rasulullah saw mengibaratkan : “ Orang mukmin terhadap orang mukmin lainnya itu laksana sebuah bangunan, sebagiannya memperkokoh bagian yang lain”.(HR Muslim).

Kondisi hari ini sebenarnya telah digambarkan Rasulullah saw
sejak lima belas abad yang lalu : “ Kelak kalian (kaum muslim) akan dikerubuti oleh umat – umat lain dari berbagai penjuru persis seperti hidangan yang dikerubuti oleh orang-orang “. Kami (para sahabat) bertanya :”Apakah saat itu jumlah kami sedikit ya Rasulullah ?” Rasul menjawab,”Justru jumlah kalian saat itu sangat banyak. Akan tetapi, kalian hanyalah buih seperti buih di lautan sehingga hilanglah rasa takut dari kalbu musuh – musuh kalian (terhadap kalian), sementara dalam kalbu-kalbu kalian ada penyakit wahn.”Kami bertanya lagi, “Apakah penyakit wahn itu?” Rasul menjawab,”Yaitu cinta dunia dan takut mati.”(HR Ahmad).

Apa yang digambarkan Rasulullah saw betul-betul telah terjadi. Realitanya, kaum kufar (Yahudi dan Nasrani) makin ‘kemaruk’ dalam menghancurkan kaum muslimin, yang justru sadar atau tidak umat Islam yang tergolong munafik membantu dalam penghancuran itu baik dalam bidang aqidah, fisik maupun moral.

Apa yang dilakukan Amerika dan Inggris di Afganistan dan Iraq, Rusia di Checnya, Israel di Palestina, Kaum Nasrani di Ambon dan Poso, dan penangkapan – penangkapan dan penculikan terhadap ulama – ulama dan para aktifis di Indonesia dengan isu teroris adalah gambaran permusuhan yang nyata oleh kaum kufar dan munafik terhadap kaum muslimin. Ironisnya sedikit sekali pembelaan dari umat Islam sendiri, justru kebanyakan mereka menyetujui tindakan-tindakan itu. Penyebabnya adalah lemahnya aqidah, rasa ukhuwah dan hilangnya loyalitas terhadap Islam. Kebanyakan kaum muslimin hari ini lebih kuat loyalitasnya terhadap kaum kafir. Berapa banyak orang Islam yang lebih percaya pada berita-berita yang diberikan media-media kafir, mengambil perlindungan dari mereka dan bahkan membantu mereka memerangi kaum muslimin yang benar-benar ingin menegakkan kalimatullah.Wallahu a’lam bish-showwab. KOKAM Sleman

Minggu, 21 Juni 2009

ISTIQOMAH

Muhammadiyah Istiqomah
Istiqomah Bermuhammadiyah

Salah satu aspek yang tidak kalah pentingnya untuk dikaji menyangkut gerakan Muhammadiyah adalah persoalan konsistensi dalam gerakan Muhammadiyah, yang dalam konsep Islam disebut dengan lafazh istiqomah. Justru selama ini karena keistiqomahan itulah Muhammadiyah dapat diterima oleh banyak umat dan menjadi lestari dan survive dalam masa yang cukup panjang. Bahkan tidak hanya survive tetapi terus berkembang pesat dalam membangun umat dan membina bangsa. Dan ketika konsistensi atau keistiqomahan mulai luntur atau mengalami kegamangan dalam dasawarsa terakhir, kita dapati kegodal-gadulan (istilah Pak AR) Muhammadiyah ,keguncangan dan kegamangan ideologis, bahkan menyentuh sendi-sendi gerakan Muhammadiyah, Keistiqomahan Muhammadiyah sebagai gerakan Tajdid fil Islam, mencakup beberapa hal, (1) gerakan pemurnian pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam, yang berdasar kepada al-Qur'an dan al-Sunnah serta pemahaman salaf al shalih, (2) modernisasi dan pembaharuan bidang manajemen dan gerakan keumatan dengan tetap berlandaskan orisinalitas ajaran Islam, mestinya tetap tegak dan tegar ditubuh Muhammadiyah, dengan dipelopori oleh elite kepemimpinannya. Bukan malah istiqomah dalam ketidakistiqomahannya.
Istiqomah dalam bidang diniyah ini meniscayakan Muhammadiyah untuk membentengi diri dari unsur-unsur yang mengotori pemahaman, pemikiran, penghayatan dan pengamalan agama, baik yang bernuansakan TBC (takhayyul, bid'ah, dan khurafat klasik), maupun TBC modern seperti paham Islam liberal sekular, yang mencoba mengadopsi berbagai metodologi, pemikiran yang datang dari luar Islam tanpa kritik, yang implikasi berikutnya berbentuk berbagai penyimpangan dan penyakit sosial; seperti korupsi, manipulasi, kolusi dan nepotisme, yang melanda negeri ini, termasuk dalam tubuh Muhammadiyah.
Sekiranya keistiqomahan ini tetap terjaga di Muhammadiyah, sudah semestinya tidak perlu gamang menghadapi kritik tentang kebekuan dan kajumudan pemikiran Muhammadiyah. Karena kritik itu banyak dilontarkan oleh kaum pragmatis liberal dan sekular, meskipun ada juga sedikit kritik yang positif dan konstruktif. Namun, kalau disimak lebih mendalam, sebenarnya terlalu banyak kritik vang justru ingin mengobrak abrik tatanan Muhammadiyah bahkan Islam, tanpa memperhatikan apakah hal itu termasuk bidang al-tsawabit (hal-hal baku dalam agama) atau bidang al-mutaghayyirat (hal-hal yang memungkinkan terjadinya perubahan). Prinsip Muhammadiyah sebagai gerakan pemurnian pemahaman, pemikiran, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam merupakan prinsip yang baku yang harus dipegang teguh Muhammadiyah ingin diobrak-abrik, dengan pamahaman liberalisme sekular dengan menawarkan teori relativisme. Paham ini mengandaikan bahwa tidak mungkin seseorang mencapai kebenaran yang hakiki dalam beragama, dan dengan itu tidak mungkin pula seseorang dapat mencapai kepada orisinalitas dan otentitas ajaran Islam. Oleh karena itu, menurut paham ini, Muhammadiyah tidak perlu mempertahankan prinsip purifikasinya, melainkan harus menggantinya dengan paham pluralisme, multikulturalisme dan liberalisme sekular. Pengaruh paham pluralisme, multikulturalisme dan liberalisme-sekular yang sedikit demi sedikit menggusur komitmen pemurnian ajaran Islam ini telah membuat Muhammadiyah lengah, lalai dan pongah terhadap nilai-nilai aqidah, ibadah, muamalah dan akhlak Islam. Sebagai contoh konkret dari kelalaian itu adalah mudahnya Muhammadiyah mengundang foundation asing (non Islam) sebagai donotur untuk berbagai kegiatannya, bahkan dalam kegiatan yang sangat prinsip, seperti pendidikan (seperti civic education dengan the Asia foundation), pengembangan manhaj dakwah dan tarjih (kasus dakwah kultural dan beberapa halaqah tarjih dengan the ford foundation) dan kajian fiqh Islam (kasus fiqh perempuan dengan the asia foundation). LSM-LSM tersebut selama ini terbukti menyebarluaskan virus yang merusak aqidah Islam. Kita harus pegang teguh pernyataan Umar bin Khattab.”Min aina laka hadza?”. Dari mana uang atau harta yang kau dapatkan ini?.
Akhirnya hasil kajian-kajian tersebut mengarah kepada penggugatan dan penggusuran prinsip pemurnian dan kemurnian ajaran Islam, dengan diakomodasinya kembali paham TBC klasik dengan dalih perluasan mitra dakwah, ngombyongi masyarakat, pengembangan sikap empati terhadap kelompok lain, serta masuknya secara hegemonik paham pluralisme, multikulturalisme dan liberalisme-sekular. Tapi kita harus ingat bahwa KH. Ahmad Dahlan hadir untuk mengadakan purifikasi dalam berbagai aspek dan berusaha mengintervensi serta menghilangkan kultur beragama yang sesat, memberantas TBC dengan hikmah, mau’izah hasanah dan mujadalah, bukan dengan cara yang sinis dan mencaci maki.
Keagamaan atas kritik pemikiran Islam Muhammadiyah juga melanda cara pikir Majelis Tarjih terutama setelah ditambah dengan Pengembangan Pemikiran Islam. Yang terjadi tidak menyemangati pemikiran Islam dalam rangka memandu umat justru sebaliknva menimbulkan kontroversi, karena memisahkan antara pemikiran dengan penghayatan dan pengamalan, memisahkan antara wacana dan fatwa. Padahal semestinya, kesemuanya itu adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, dengan landasan sumber ajaran Islam yang otentik, dengan tetap memahami realitas umat untuk didekati dan dibawa menuju otentitas dan orisinalitas Islam ideal. Kontroversi itu muncul dari produk wacana pemikiran yang ditawarkan sepetrti Tafsir Tematik Hubungan Antar Agama, yang kental dengan paham pluralisme, juga lontaran personil pimpinan majelis Tarjih yang mengatakan jilbab tidak wajib dan aurat perlu didefinisi ulang, dan seterusnya. Kontroversi ini jelas, secara akademik tidak memiliki manfaat signifikan, dan dari sudut keagamaan justru mengarah kepada pendangkalan aqidah dan pengaburan syari'at. Dan kita harus ingat bahwa KH. Ahmad Dahlan dalam sejarah belum pernah berteman dengan pendeta dan pastor, kalau toh ada pertemuan adalah untuk berdebat bukan berkawan.
Berkali-kali, Muhammadiyah menegaskan dirinya sebagai organisasi dakwah, yang bergerak dalam bidang sosial pendidikan dan kesejahteraan sosial serta sebagai organisasi kemasyarakatan yang tidak berafiliasi kepada partai politik tertentu, tidak merupakan kendaraan untuk meraih kekuasaan, dan seterusnya. Namun, karena goyahnya keistiqomahan kepemimpinan Muhammadiyah, berulangkali juga, Muhammadiyah terjebak dalam arus politik kekuasaan, yang seringkali menanggalkan khittahnya sebagai gerakan dakwah Islam. Kalau Muhammadiyah konsisten dan istiqomah dengan Khittah dan Kepribadiannya, tidak akan tergiur untuk terseret dan menyeret diri dalam syahwat politik praktis dan politik kekuasaan. Gerakan politik Muhammadiyah adalah politik untuk dakwah, sehingga Muhammadiyah memang harus aktif dan proaktif memberikan kontribusi pemikiran strategis-islami bagi pengembangan dan pembangunan bangsa, tanpa harus terjebak pada politik kekuasaan. Namun, karena syahwat politik beberapa oknum dalam kepemimpinan elite Muhammadiyah, baik pusat daerah maupun cabang, akhirnya terjadi konflik internal Muhammadiyah, karena perbedaan aspirasi politik, dan parahnya adalah menjadikan Muhammadiyah sebagai kendaraan atau batu loncatan untuk meraih kedudukan politik sementara orang atau aktif di Muhammadiyah hanya sebagai sarana untuk mendapat dukungan politik tapi setelah jadi tidak mau tahu tentang Muhammadiyah. Yang lebih parah lagi adalah campur tangannya organisasi lain yang masuk ditubuh Muhammadiyah dengan cara memasukkan kader-kadernya atau merekrut kader dengan cara menyelenggarakan kajian-kajian dengan mengundang tokoh-tokoh atau pimpinan Muhammadiyah (yang memang tidak melek politik dan mudah dikibulin) dengan tujuan mencari dukungan bagi kepentingan politiknya, Muhammadiyah hanya digunakan sebagai lahan untuk meraih suara, yang ujung-ujungnya para banyak pimpinan dan aktifis itu kemudian tidak lagi istiqomah dalam bermuhammadiyah mereka lebih semangat menghadiri kajian-kajian itu tapi khianat terhadap Amanahnya sebagai pimpinan atau pengurus Muhammadiyah dengan menterlantarkan Organisasinya. Yang kemudian diperparah lagi dengan tidak PD – nya para aktifis dan Pengurus Muhammadiyah dengan Muhammadiyah akibat dari tidak mengenalnya mereka terhadap Organisasinya sehingga memandang organisasi lain lebih baik. Comeback-nya, beberapa aktivis politik (baca: partai politik) Muhammadiyah ke rumah besar Muhammadiyah perlu diwaspadai dan diuji apakah mereka benar-benar comeback jihad fi sabilillah, ataukah untuk meraih kedudukan politik yang lebih tinggi atau mencari dukungan politik, karena Muhammadiyah dipandang sebagai kekuatan sosial kemasyarakatan yang memiliki kekuatan politik yang signifikan.
Ala kulli haj, pemimpin Muhammadiyah harus Amanah dan istiqomah dalam dakwah, istiqomah menggarap pendidikan Islami, dan istiqomah membina umat dengan berbagai bentuk pengajian dan kajian Islam dalam berbagai aspek kehidupan serta Istiqomah dalam ber Muhammadiyah. Sebagai gerakan Dakwah Islam Yang memiliki komitmen untuk pemurnian dan menjaga kemurnian ajaran Islam, Muhammadiyah memahami bahwa kebudayaan adaIah pemikiran, karya dan penghayatan hidup yang merupakan refleksi umat Islam atas ajaran agamanya. yang bersumber pada otentisitas ajaran Islam. Dengan pandangan itu, Muhammadiyah memandang. bahwa adanya pluralitas budaya (multikulturalitas) adalah sesuatu kenyataan yang mesti diterima. Namun, tidak berimplikasi kepada paham pluralisme dan multikulturalisme, yang memandang semua agama dan semua budaya manusia adalah benar dan baik bagi umat manusia, sebagaimana statemen al-Qur'an memandang bahwa dalam pluralitas budaya atau multikulturalitas terdapat kategori budaya ma'rufat (segala budaya yang baik, yang sesuai dengan nilai-nilai Islam) dan budaya munkarat (segala sesuatu yang jelek, batil dan jahat bagi kehidupan manusia dan tidak sesuai dengan syariat Islam. Derasnya paham multikulturalisme dan pluralisme di dalam tubuh Muhammadiyah ditandai dengan kritik tajam yang dilontarkan oleh kalangan internal Muhammadiyah atas konsep pemurnian agama (purifikasi). Bahkan kritik itu telah berubah menjadi hujatan bahwa gerakan purifikasi dalam Muhammadiyah telah menggusur potensi kultur lokal, tanpa memahami persoalan dan konteks budaya lokal tersebut jika dikaitkan dengan aqidah, akhlak dan muamalah Islam. Akibat lanjut dari kegamangan atau kegodal-gadulan adalah kecenderungan warga dan pimpinan Muhammadiyah yang permisif terhadap berbagai budaya lokal dan global, tanpa memperdulikan aspek-aspek munkarat yang terjadi. Melihat kondisi terakhir Muhammadiyah yang gamang, godal-gadul dalam menghadapi perkembangan masyarakat, bahkan terkooptasi oleh hegemoniknya pemikiran Islam liberal-sekular yang sempat memporakporandakan bangunan organisasi dan gerakan dakwahnya, Muhammadiyah memerlukan kepemimpinan yang kompak (barakah jama'i) dan konsisten (istiqomah) terhadap nilai-nilai dasar Islam. Dengan jalan itulah, Muhammadiyah akan lebih memiliki daya tarik dalam membina umat dan memberi arah kepada setiap perubahan dan perkembangan masyarakat. Sementara dengan kegamangan seperti saat ini banyak warga Muhammadiyah eksoduse, dan lebih dari itu Muhammadiyah jadi bahan pergunjingan yang melelahkan. Akhirnya, semoga Muhammadiyah tetap Amanah dan istiqomah dalam gerakannya, kokohkan khittah pemurnian, dakwah dan tajdid, bersihkan TBC dan liberalisme-sekular. Innallaha ma'ana. Nasrun Minallah wa-fathun qariib.

Minggu, 14 Juni 2009

Amar Ma'ruf Nahi Munkar

AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

Diriwayatkan dari Anas Ibn Malik r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang menunaikan salat satu kali, dari nafas orang yang salat itu Allah menciptakan awan putih itu untuk mengambil rahmat dari laut. Lalu Ia mengambilnya. Kemudian Allah SWT menyuruhnya agar menjadi hujan. Lalu dari tetesan jatuh kebumi Allah menciptakan emas, dari tetesan yang jatuh ke gunung Allah menciptakan perak, dan dari tetesan yang jatuh kepada orang kafir Allah SWT menganugerahinya keimanan”.

Allah SWT berfirman : “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia...(QS.Ali ‘Imran : 110). Tentang ayat ini, al-Kalbi berkata; “Ayat ini mengandung penjelasan tentang keadaan umat ini dalam hal keutamaannya atas umat-umat lain. Disitu terdapat dalil bahwa umat Islam ini merupakan umat terbaik secara mutlak. Hal ini mencakup generasi dari umat-umat yang lain walaupun ada perbedaan dalam esensinya, sebagaimana keutamaan sahabat terhadap generasi berikutnya”.

Makna ukhrijat adalah “ditampakkan kepada manusia” yakni agar memberikan manfaat dan kebaikan kepada mereka di segenap penjuru dunia sehingga mereka dapat dibedakan dan dikenal. Selanjutnya firman Allah SWT : “...Engkau menyuruh kepada kebaikan, mencegah kemunkaran dan beriman kepada Allah...(QS.Ali ‘Imran : 110). Ayat mengandung penjelasan tentang keberadaan mereka sebagai yang terbaik selain mencakup juga kelebihan mereka yang tegak di atas sifat-sifat tersebut. Kalau mereka meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, mereka kehilangan sifat tersebut. Oleh karena itulah Allah menjadikan mereka sebagai manusia terbaik untuk orang lain. Mereka menyuruh kebaikan, mencegah kemunkaran, dan memerangi orang-orang kafir agar mereka selamat sehingga manfaat mereka mengungguli yang lain. Nabi Saw bersabda :”Sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat kepada orang lain dan sejahat-jahat manusia adalah yang mendatangkan kerugian bagi orang lain.”

Firman-Nya,”...Mereka beriman kepada Allah...” Artinya, mereka meyakini keesaan Allah Swt dan teguh di atas prinsip itu. Mereka pun mengakui bahwa Muhammad adalah Nabi Allah Swt. Sebab, barangsiapa yang mengingkari Muhammad Saw.,berarti ia tidak beriman kepada Allah. Nabi Saw bersabda :”Barangsiapa melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangan. Jika tidak mampu, ubahlah dengan lidah. Jika masih tidak mampu, ubahlah dengan hati, tetapi ini merupakan selemah-lemah iman.”

Sebagian ulama mengatakan bahwa mengubah dengan tangan adalah untuk para pemimpin, dengan lidah untuk para ulama, dan dengan hati adalah untuk masyarakat awam. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa setiap orang yang mampu melakukan hal itu, ia wajib mengubahnya, sebagaimana Allah SWT berfirman: “Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa; janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (QS. Al-Ma’idah ayat 2)

Termasuk sikap tolong-menolong adalah memberikan dorongan, memudahkan jalan kebaikan, serta menutup jalan kejahatan dan permusuhan sedapat mungkin.

Di dalam hadits lain, Nabi Saw, bersabda,”Barangsiapa yang menegur ahli bid’ah, Allah memenuhi kalbunya dengan keamanan dan keimanan. Barang siapa yang merendahkan ahli bid’ah, Allah memberinya ketenangan pada hari yang sangat menakutkan. Barangsiapa yang menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran, berarti ia adalah khalifah Allah serta khalifah kitab dan Rasul-Nya di bumi”.

Hudzayfah r.a. berkata, “Akan datang suatu zaman kepada manusia ketika bangkai keledai lebih mereka sukai dari pada orang Mukmin yang menyuruh mereka berbuat kebaikan dan mencegah mereka dari kemunkaran.”

Musa a.s. berkata, “Tuhanku, apa balasan bagi orang yang mengajak saudaranya kepada kebenaran, menyuruhnya berbuat kebaikan, dan mencegahnya dari kemunkaran?”Allah menjawab,”Untuk setiap kata-katanya, aku menuliskannya sebagai ibadah sunnah untuknya dan Aku merasa malu untuk mengazabnya dengan api neraka.”

Di dalam hadits qudsi, Allah SWT berfirman,”Wahai anak Adam, janganlah kalian termasuk orang-orang yang menunda tobat, memanjangkan angan-angan, dan kembali ke akhirat tanpa amalan. Janganlah kalian menjadi orang yang mengucapkan perkataan orang-orang ahli ibadah, tetapi melakukan perbuatan orang-orang munafik. Janganlah kalian menjadi orang yang tidak merasa cukup jika diberi karunia; tidak bersabar jika tidak diberi; mencintai orang-orang sholeh tetapi tidak menjadi bagian dari mereka; membenci orang-orang munafik tetapi menjadi bagian dari mereka; menyuruh kebaikan tetapi tidak mengerjakannya; serta mencegah kejahatan tetapi tidak menghindarinya”.

Ali kw. Berkata, “saya pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Pada akhir zaman akan datang suatu kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka mengutip ucapan manusia terbaik (Nabi Saw.) tetapi tidak melewati tenggorokan mereka (tidak diamalkan). Mereka tercabut dari agama sebagaimana anak panah tercabut dari busurnya.”

Nabi Saw. bersabda, “Pada malam Isra ke langit, aku melihat orang-orang yang dipotong lidah mereka dengan pemotong dari api. Lalu aku bertanya, “Siapa mereka itu, Jibril?” mereka adalah para khatib dari umat anda yang menyuruh manusia berbuat kebajikan tetapi lupa pada diri mereka sendiri,” jawab Jibril.”

Tentang mereka, Allah SWT berfirman: “Mengapa kalian menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sementara kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membawa al-kitab? Tidakkah kalian berfikir?” (QS al-Baqarah ayat 44)

Artinya, mereka itu membaca kitab Allah, tetapi tidak mengamalkan isinya; mereka menyuruh orang lain bersedekah, tetapi mereka sendiri tidak bersedekah. Oleh karena itu, wajib bagi kaum mukmin untuk menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran, tetapi tidak melupakan diri mereka sendiri, sebagaimana Allah SWT berfirman. “Kaum Mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kebaikan , mencegah kemunkaran, menegakkan shalat…”(QS at-taubah ayat 71)

Kaum Mukmin berwatak menyuruh kebaikan. Jadi, orang yang meninggalkan watak itu bukan bagian dari mereka yang dijelaskan di dalam ayat ini. Allah mencela banyak kaum karena meninggalkan amar ma’ruf . Allah SWT berfirman: “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan kemunkaran yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”. (QS Al-Ma’idah ayat 79).

Abu ad-Darda r.a. berkata: “Apakah kalian menyuruh kebajikan dan mencegah kemunkaran atau Allah mengalahkan mereka malalui kekuasaan yang dolim, ketika orang tua tidak dihargai dan anak-anak tidak disayang? Mereka memohon kebaikan kalian, tapi kalian tidak memberi jawaban kepada mereka. Mereka meminta pertolongan, tetapi tidak ada yang menolong. Mereka memohon ampunan, tetapi tidak dimaafkan.

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Allah mengazab penghuni kampung yang disitu mereka mengerjakan delapan belas ribu perbuatan para Nabi. “Bagaimana bisa demikian tanya para sahabat. Mereka tidak membenci karena Allah, tidak menyuruh kebajikan, dan tidak mencegah kemunkaran, jawab Nabi Saw”.

Abu Dzar al-Ghifari r.a. meriwayatkan bahwa Abu Bakar As-Shiddiq r.a. bertanya, “Ya Rosulullah, apakah ada jihad lain selain memerangi orang-orang musyrik? “Ada wahai Abu Bakar. Allah memiliki para pejuang di bumi yang lebih utama dari pada para syuhada yang hidup dengan diberi rezeki dan berjalan di bumi. Allah membanggakan mereka kepada para malaikat langit dan menghias syurga untuk mereka seperti Ummu Salamah berhias untuk Rosulullah Saw jawab Rosulullah Saw. “Ya Rosulullah siapakah mereka itu? “Rosul menjawab, “Orang-orang yang menyuruh kebajikan, mencegah kemunkaran, serta mencinta dan membenci karena Allah.” Selanjutnya beliau bersabda,”Demi zat yang diriku dalam kekuasaan-Nya, hamba itu berada di kamar yang terletak diatas kamar-kamar lain diatas kamar-kamar para syuhada. Masing-masing kamar itu memiliki tiga ratus pintu dari yakut, zamrut, dan emas. Diatas setiap pintu ada cahaya. Laki-laki dari mereka menikahi tiga ratus ribu bidadari yang menyilaukan mata. Setiap kali memandang salah satunya, bidadari itu berkata, Ingatkah anda pada hari begini dan begitu ketika anda menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran?”Setiap kali memandangnya, bidadari itu menyebutkan tentang perintah untuk mengerjakan kebaikan dan mencegah kemunkaran.”

Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah bertanya kepada Musa as, Musa, Apakah engkau telah mengerjakan suatu amalan untuk-Ku? “Tuhanku saya telah shalat, puasa, dan bersedekah, bersujud karena-Mu, serta memuji-Mu, membaca kitab-Mu, dan berdzikir kepada-Mu. Jawab Musa as. Musa, didalam shalat ada pembelaan bagimu, di dalam puasa ada syurga untukmu, di dalam sedekah ada naungan untukmu, dan di dalam tasbih ada cahaya untukmu. Lalu amalan apa yang lain yang engkau kerjakan untuk-Ku?“Tuhanku, tunjukkan kepada saya amalan yang dapat saya kerjakan untuk-Mu,”Musa, apakah engkau menolong waliku? Apakah engkau memusuhi musuhku?“.Musapun mengerti bahwa amalan yang paling utama adalah mencinta dan membenci karena Allah serta membenci musuh-musuh-Nya.

Abu Ubaydah Ibnu Jarrah r.a. berkata, “Saya bertanya, Ya Rosulullah, syuhada mana yang paling mulia disisi Allah SWT? beliau menjawab, seseorang yang mendatangi pemimpin yang durhaka, menyuruhnya berbuat kebaikan dan mencegah kemunkaran, lalu terbunuh. Jika tidak terbunuh, qolam tidak bekerja setelah itu. Kalaupun hidup, ia tidak bergerak”.

Al-hasan Al-Bashri r.a meriwayatkan bahwa Rosulullah Saw bersabda, “Seutama-utama syuhada umatku adalah orang yang mendatangi pemimpin yang durhaka, memerintahkannya berbuat kebaikan dan mencegah kemunkaran, lalu ia terbunuh itulah syahid. Tempatnya di syurga adalah diantara tempat Hamzah dan Ja’far”.

Allah mewahyukan kepada Yusa Ibnu Nun a.s. “Aku akan membinasakan empat puluh ribu orang baik dan enam puluh ribu orang jahat diantara kaummu”. “Tuhanku tentang orang jahat saya maklum akan tetapi bagaimana dengan orang-orang yang baik, tanya Yusa” Mereka tidak membenci karena kebencian-Ku serta makan dan minum bersama orang-orang jahat.”

Anas r.a berkata,”Kami bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rosulullah, tidakkah kami memerintah kebaikan sebelum mengerjakan seluruhnya dan tidak mencegah kemunkaran sebelum menjauhi semuanya ?” Nabi Saw menjawab, “Perintahkanlah kebaikan walaupun kalian tidak mengetahui seluruhnya dan cegahlah kemunkaran walaupun kalian tidak menjauhi semuanya” jawab Nabi Saw.

Kemaksiatan Mempengaruhi Eksistensi Jamaah

Terkadang kemaksiatan seseorang atau sekelompok ikhwah bisa mengakibatkan seluruh bagian dari jamaah akan merasakan pengaruh buruknya, atau menjadi faktor kehancuran dan malapetaka, atau menjadi sebab hadirnya ujian yang sangat berat. Khususnya jika kemaksiatan itu berupa dosa besar atau dilakukan oleh jajaran qiyadah atau orang-orang yang seharusnya menjadi uswah dan qudwah. Allah Swt berfirman : “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu”.(Al-Anfal : 25).

Kalau kita perhatikan perang Uhud misalnya, kita akan mendapati bahwa sebab kekalahan kaum muslimin di sana adalah implikasi dari kemaksiatan yang dilakukan oleh sebagian pasukan pemanah. Jumlah mereka tidak lebih dari 4% keseluruhan pasukan kaum muslimin dalam peperangan itu. Apa hasil dari kemaksiatan itu ? 70 orang sahabat Rasul Swa terbunuh, .

Kalau kita perhatikan perang Uhud misalnya, kita akan mendapati bahwa sebab kekalahan kaum muslimin di sana adalah implikasi dari kemaksiatan yang dilakukan oleh sebagian pasukan pemanah. Jumlah mereka tidak lebih dari 4% keseluruhan pasukan kaum muslimin dalam peperangan itu. Apa hasil dari kemaksiatan itu ? 70 orang sahabat Rasul Swa terbunuh, perut mereka dicabik-cabik, telinga dan hidung mereka diiris, Rasul terluka, wajahnya yang mulia robek, gigi ruba’iyahnya pecah. Itupun Allah telah memaafkan mereka sebagaimana tertera di dalam Al-Qur’an,”Dan dia telah memaafkan kalin”.(Ali ‘Imran : 152). Seseorang pernah bertanya kepada Hasan Al-Bashri, “Bagaimana bisa dikatakan Allah telah memaafkan mereka, sedangkan tujuh puluh orang dari mereka terbunuh? Hasan menjawab,”Kalau seandainya Allah tidak memaafkan mereka, niscaya mereka semua tertumpas habis.”

Itu semua merupakan implikasi dan akibat buruk dari kemaksiatan. Al-Qur’an menjelaskan.”Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padalah kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah,”Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.”.(Ali ‘Imran : 165).

“Sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. (Ali ‘Imran : 152)

Hal seperti ini juga tampak jelas dalam perang Hunain, pada awal-awal peperangan kaum muslimin sempat kocar-kacir akibat segelintir orang yang ‘ujub dan lupa bahwa kemenangan itu semuanya hanya datang dari Allah. Padahal mereka termasuk at-Thulaqa’, orang-orang yang baru saja masuk Islam. Mereka mengatakan,”Hari ini kita tidak mungkin kalah karena jumlah kita banyak”. Buahnya, seperti yang dijelaskan oleh Al-Qur’an.”Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang yang beriman) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dan bercerai-berai. (at-Taubah:25)

Dari sini saya sampaikan, sebuah jamaah yang ingin eksis di muka bumi hendaklah memberikan perhatian yang penuh terhadap urusan mencegah kemunkaran yang ada di dalam tubuh jamaah, melebihi perhatiannya terhadap urusan mencegah kemunkaran yang ada di masyarakat tempat jamaah ini berada. Sungguh jika sebuah jamaah telah sukses untuk menyelesaikan yang pertama, niscaya ia akan lebih sukses lagi untuk menyelesaikan yang kedua. Dan saya tegaskan, sekali-kali sebuah jamaah tidak akan sukses untuk menyelesaikan yang kedua kecuali jika telah sukses menyelesaikan yang pertama.

Sebelum saya mengakhiri pembicaraan tentang kemaksiatan ini, saya ingin mengingatkan adanya satu masalah yang sangat penting; saya tidak memaksudkan pembicaraan saya di muka untuk kemaksiatan lahir saja, namun saya maksudkan juga untuk yang batin. Apalagi yang terakhir ini seperti riya’, ujub, iri, cinta kekuasaan dan sombong, cinta dunia bisa jadi jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan kemaksiatan lahir.

KOKAM

KOKAM