Ringkasan Operasi Militer Mujahidin Afghanistan 18 September 2009 - Arrahmah.com
Shared via AddThis
Dijalan Allah Kami tegak berdiri mencitakan panji-panji menjulang tinggi bukan untuk golongan tertentu semua amal kami, bagi dien ini kami menjadi pejuang sejati, hidup mulia atau mati syahid cita-cita kami
Senin, 21 September 2009
Jumat, 11 September 2009
Misteri Angka 8
Bisa jadi angka 8 menjadi angka bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Korban 88 warga Autralia dalam Bom Bali I melahirkan Detasemen khusus Antiteror (Densus) 88. Densus 88 ini pula yang bertugas memburu, mengejar dan menangkap siapa saja yang dianggap sebagai teroris benar atau salah. Korp Burung Hantu ini menjadi garda terdepan setiap aksi teror yang terjadi di Indonesia.
Konon arti angka 88 pada tulisan Detasemen Khusus 88 menyerupai dua buah borgol yang berarti polisi serius menangani kasus-kasus teroris. Selain itu, angka 88 adalah angka yang tidak terputus dan terus menyambung. Artinya bahwa pekwerjaan Detasemen 88 Antiteror ini terus berlangsung dan tidak kenal berhenti. Densus 88 yang diresmikan pada tanggal 26 Agustus 2004, awalnya terdiri dari 75 orang dan dipimpin pertama kali Ajun Komisaris Besar Polisi Tito Karnavian itu, kini diperkirakan berkekuatan 400 personil.
Saat Indonesia kembali dikagetkan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Calton, dua hotel yang menjadi kesenangan orang asing menginap di Indonesia, perburuan segera dilakukan. Noordin M. Top kembali menjadi sorotan. Jejaknya kembali disisir, termasuk siapapun yang terlibat dalam jaringannya. Lagi-lagi pengeboman di kedua hotel tersebut meninggalkan jejak angka 8. Entah ketepatan atau tidak, tertinggalnya bom di kamar 1808 hotel JW Marriot seakan menambah panjang sejarah angka 8 dalam peristiwa terorisme. Kamar 1808 seakan memberi pesan akan arti penting angka 8 di hotel yang dijaga super ketat tersebut. Angka 8 menjadi symbol perebutan yang seakan memiliki nilai, gengsi, harga diri, kecepatan, ketangkasan, ketangguhan dan kemenangan.
Berbagai analisa muncul. Menurutnya, tidak mungkin teroris professional meninggalkan jejak bom begitu saja. Bisa jadi itu sebuah pesan "cinta" kepada kepolisian khususnya Densus '88'. Apalagi, sebelum kejadian, pemesan kamar ditawari dengan kamar lain namun tidak mau. Akhirnya ia memilih kamar 1808, sebuah pilihan yang akhirnya melahirkan spekulasi kembali arti angka 8.
Saling memberikan pesan dengan 'sandi' 8 kembali muncul ketika terjadi penggrebekan rumah Mohzahri atau Jahri (70), di RT 01 RW 07, Dusun Beji, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Temanggung, Jawa Tengah. Sekali lagi entah ketepatan atau tidak, penggrebekan tersebut berakhir setelah terjadinya pengepungan selama 18 jam pada tanggal 8 bulan 8. Tim Densus 88 juga tercatat meledakkan bom di rumah itu sebanyak 8 kali. Penggrebekan tersebut juga disiarkan nonstop oleh dua stasion TV, TVOne dan Metro TV.
Apapun komentar, sengaja atau tidak, sandi atau bukan angka 8 menjadi simbol peperangan melawan terorisme. Masing-masing seakan ingin meyampaikan pesan untuk membuat sejarah dengan angka 8. Masing-masing meneguhkan angka 8 sebagai simbol 'kemenangan'. Nampaknya, angka 8 masih terus melahirkan spekulasi seiring perang melawan terorisme. Waktu pula yang akan menjawab apa makna angka 8 tersebut.
Bukan maksud mencocok-cocokkan tentang uraian diatas.
Coba anda pahami :
Surat 8 (Al Anfal ) ayat 8: "agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya."
Surat 8 (Al Anfal) ayat 88: "Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), Padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu?. Mengapakah kamu takut kepada mereka Padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman."
Surat 88 (Al Ghaasyiyah):Menceritakan tentang hari pembalasan
Konon arti angka 88 pada tulisan Detasemen Khusus 88 menyerupai dua buah borgol yang berarti polisi serius menangani kasus-kasus teroris. Selain itu, angka 88 adalah angka yang tidak terputus dan terus menyambung. Artinya bahwa pekwerjaan Detasemen 88 Antiteror ini terus berlangsung dan tidak kenal berhenti. Densus 88 yang diresmikan pada tanggal 26 Agustus 2004, awalnya terdiri dari 75 orang dan dipimpin pertama kali Ajun Komisaris Besar Polisi Tito Karnavian itu, kini diperkirakan berkekuatan 400 personil.
Saat Indonesia kembali dikagetkan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Calton, dua hotel yang menjadi kesenangan orang asing menginap di Indonesia, perburuan segera dilakukan. Noordin M. Top kembali menjadi sorotan. Jejaknya kembali disisir, termasuk siapapun yang terlibat dalam jaringannya. Lagi-lagi pengeboman di kedua hotel tersebut meninggalkan jejak angka 8. Entah ketepatan atau tidak, tertinggalnya bom di kamar 1808 hotel JW Marriot seakan menambah panjang sejarah angka 8 dalam peristiwa terorisme. Kamar 1808 seakan memberi pesan akan arti penting angka 8 di hotel yang dijaga super ketat tersebut. Angka 8 menjadi symbol perebutan yang seakan memiliki nilai, gengsi, harga diri, kecepatan, ketangkasan, ketangguhan dan kemenangan.
Berbagai analisa muncul. Menurutnya, tidak mungkin teroris professional meninggalkan jejak bom begitu saja. Bisa jadi itu sebuah pesan "cinta" kepada kepolisian khususnya Densus '88'. Apalagi, sebelum kejadian, pemesan kamar ditawari dengan kamar lain namun tidak mau. Akhirnya ia memilih kamar 1808, sebuah pilihan yang akhirnya melahirkan spekulasi kembali arti angka 8.
Saling memberikan pesan dengan 'sandi' 8 kembali muncul ketika terjadi penggrebekan rumah Mohzahri atau Jahri (70), di RT 01 RW 07, Dusun Beji, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Temanggung, Jawa Tengah. Sekali lagi entah ketepatan atau tidak, penggrebekan tersebut berakhir setelah terjadinya pengepungan selama 18 jam pada tanggal 8 bulan 8. Tim Densus 88 juga tercatat meledakkan bom di rumah itu sebanyak 8 kali. Penggrebekan tersebut juga disiarkan nonstop oleh dua stasion TV, TVOne dan Metro TV.
Apapun komentar, sengaja atau tidak, sandi atau bukan angka 8 menjadi simbol peperangan melawan terorisme. Masing-masing seakan ingin meyampaikan pesan untuk membuat sejarah dengan angka 8. Masing-masing meneguhkan angka 8 sebagai simbol 'kemenangan'. Nampaknya, angka 8 masih terus melahirkan spekulasi seiring perang melawan terorisme. Waktu pula yang akan menjawab apa makna angka 8 tersebut.
Bukan maksud mencocok-cocokkan tentang uraian diatas.
Coba anda pahami :
Surat 8 (Al Anfal ) ayat 8: "agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya."
Surat 8 (Al Anfal) ayat 88: "Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), Padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu?. Mengapakah kamu takut kepada mereka Padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman."
Surat 88 (Al Ghaasyiyah):Menceritakan tentang hari pembalasan
Kamis, 10 September 2009
Nasionalisme (Lanjut)
Sejarah akan senantiasa terulang, berganti seiring perjalanan waktu. Memasuki ruang dan zaman dengan peristiwa dan dinamikanya sendiri-sendiri. Jika zaman dahulu manusia menjadikan berhala yang berbentuk patung untuk mempersatukan manusia, maka zaman sekarang manusia menjadikan isme untuk merekatkan satu sama lain. Ada sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang mengisyaratkan bahwa suatu masyarakat sengaja menjadikan “berhala” tertentu sebagai perekat hubungan antara satu individu dengan individu lainnya. Sedemikian rpa berhala itu diagungkan sehingga seluruh anggota masyarakat yang menyembahnya merasakan tumbuhnya semacam “kasih-sayang” di antara mereka satu sama lain. Suatu bentuk kasih-sayang yang bersifat artificial atau temporer. Ia bukan kasing-sayang yang sejati, apalagi abadi. Gambaran mengenai berhala pencipta kasih-sayang palsu ini dijelaskan berkenaan dengan kisah Nabiyullah Ibrahim ‘alaihi-salam.
“ Dan berkata Ibrahim ‘alaihi-salasam:”Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih saying diantara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun.”(QS Al-Ankabut : 25).
Jika “berhala-berhala” di zaman dahulu adalah berupa patung-patung yang disembah dan dijadikan sebab bersatunya mereka yang sama-sama menyembah berhala patung itu padahal itu merupakan produk manusia, di zaman modern sekarang “berhala” bisa berupa aneka menjadi isme/ideology/falsafah/jalan hidup/system hidup/way of live/ pandangan hidup produk manusia. Manusia di zaman sekarang juga “menyembah” berhala-berhala modern tersebut dan mereka menjadikannya sebagai “pemersatu” di antara aneka individu dan kelompok di dalam masyarakat. Berhala modern itu menciptakan semacam persatuan dan kasih saying yang berlaku sebatas kehidupan mereka di dunia saja. Berhala modern itu bisa memiliki nama yang beraneka ragam. Tapi apapun namanya, satu hal yang pasti bahwa itu semua merupakan produk fikiran terbatas manusia. Ia bisa bernama Komunisme, Sosialisme, Kapitalisme, Liberalisme, Nasionalisme, Sekulerisme atau apapun selain itu.
Islam adalah negeri kita, tempat keluarga dan kerabat kita. Di mana syari’at Islam ditegakkan dan kalimat Allah Ta’ala ditinggikan, makas disanalah negeri kita kita tercinta. Adapun Negara Islam arti sempit, yakni sepotong tanah yang ditulis batas-batasnya oleh manusia, dibuat pemisah, dibatasi warna kulit, suku dan kebangsaan maka itu sesuatu yang tidak pernah dikenal oleh Islam. Dalam kata lain, Islam tidak mengenal nasionalisme. Hal itu muncul dalam rangka memberikan pemahaman yang rusak dan merusak yang ditebarkan oleh Barat dan para pengekornya untuk menyingkirkan semangat keIslaman, meredupkan jati diri Islam yang telah mempersatukan berbagai suku, bangsa dan ummat serta menjadikannya satu ummat saja”Ummat Islam serta “Ummat Tauhid”.
“ Dan berkata Ibrahim ‘alaihi-salasam:”Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih saying diantara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun.”(QS Al-Ankabut : 25).
Jika “berhala-berhala” di zaman dahulu adalah berupa patung-patung yang disembah dan dijadikan sebab bersatunya mereka yang sama-sama menyembah berhala patung itu padahal itu merupakan produk manusia, di zaman modern sekarang “berhala” bisa berupa aneka menjadi isme/ideology/falsafah/jalan hidup/system hidup/way of live/ pandangan hidup produk manusia. Manusia di zaman sekarang juga “menyembah” berhala-berhala modern tersebut dan mereka menjadikannya sebagai “pemersatu” di antara aneka individu dan kelompok di dalam masyarakat. Berhala modern itu menciptakan semacam persatuan dan kasih saying yang berlaku sebatas kehidupan mereka di dunia saja. Berhala modern itu bisa memiliki nama yang beraneka ragam. Tapi apapun namanya, satu hal yang pasti bahwa itu semua merupakan produk fikiran terbatas manusia. Ia bisa bernama Komunisme, Sosialisme, Kapitalisme, Liberalisme, Nasionalisme, Sekulerisme atau apapun selain itu.
Islam adalah negeri kita, tempat keluarga dan kerabat kita. Di mana syari’at Islam ditegakkan dan kalimat Allah Ta’ala ditinggikan, makas disanalah negeri kita kita tercinta. Adapun Negara Islam arti sempit, yakni sepotong tanah yang ditulis batas-batasnya oleh manusia, dibuat pemisah, dibatasi warna kulit, suku dan kebangsaan maka itu sesuatu yang tidak pernah dikenal oleh Islam. Dalam kata lain, Islam tidak mengenal nasionalisme. Hal itu muncul dalam rangka memberikan pemahaman yang rusak dan merusak yang ditebarkan oleh Barat dan para pengekornya untuk menyingkirkan semangat keIslaman, meredupkan jati diri Islam yang telah mempersatukan berbagai suku, bangsa dan ummat serta menjadikannya satu ummat saja”Ummat Islam serta “Ummat Tauhid”.
Langganan:
Postingan (Atom)
KOKAM