Minggu, 14 Juni 2009

Amar Ma'ruf Nahi Munkar

AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

Diriwayatkan dari Anas Ibn Malik r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang menunaikan salat satu kali, dari nafas orang yang salat itu Allah menciptakan awan putih itu untuk mengambil rahmat dari laut. Lalu Ia mengambilnya. Kemudian Allah SWT menyuruhnya agar menjadi hujan. Lalu dari tetesan jatuh kebumi Allah menciptakan emas, dari tetesan yang jatuh ke gunung Allah menciptakan perak, dan dari tetesan yang jatuh kepada orang kafir Allah SWT menganugerahinya keimanan”.

Allah SWT berfirman : “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia...(QS.Ali ‘Imran : 110). Tentang ayat ini, al-Kalbi berkata; “Ayat ini mengandung penjelasan tentang keadaan umat ini dalam hal keutamaannya atas umat-umat lain. Disitu terdapat dalil bahwa umat Islam ini merupakan umat terbaik secara mutlak. Hal ini mencakup generasi dari umat-umat yang lain walaupun ada perbedaan dalam esensinya, sebagaimana keutamaan sahabat terhadap generasi berikutnya”.

Makna ukhrijat adalah “ditampakkan kepada manusia” yakni agar memberikan manfaat dan kebaikan kepada mereka di segenap penjuru dunia sehingga mereka dapat dibedakan dan dikenal. Selanjutnya firman Allah SWT : “...Engkau menyuruh kepada kebaikan, mencegah kemunkaran dan beriman kepada Allah...(QS.Ali ‘Imran : 110). Ayat mengandung penjelasan tentang keberadaan mereka sebagai yang terbaik selain mencakup juga kelebihan mereka yang tegak di atas sifat-sifat tersebut. Kalau mereka meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, mereka kehilangan sifat tersebut. Oleh karena itulah Allah menjadikan mereka sebagai manusia terbaik untuk orang lain. Mereka menyuruh kebaikan, mencegah kemunkaran, dan memerangi orang-orang kafir agar mereka selamat sehingga manfaat mereka mengungguli yang lain. Nabi Saw bersabda :”Sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat kepada orang lain dan sejahat-jahat manusia adalah yang mendatangkan kerugian bagi orang lain.”

Firman-Nya,”...Mereka beriman kepada Allah...” Artinya, mereka meyakini keesaan Allah Swt dan teguh di atas prinsip itu. Mereka pun mengakui bahwa Muhammad adalah Nabi Allah Swt. Sebab, barangsiapa yang mengingkari Muhammad Saw.,berarti ia tidak beriman kepada Allah. Nabi Saw bersabda :”Barangsiapa melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangan. Jika tidak mampu, ubahlah dengan lidah. Jika masih tidak mampu, ubahlah dengan hati, tetapi ini merupakan selemah-lemah iman.”

Sebagian ulama mengatakan bahwa mengubah dengan tangan adalah untuk para pemimpin, dengan lidah untuk para ulama, dan dengan hati adalah untuk masyarakat awam. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa setiap orang yang mampu melakukan hal itu, ia wajib mengubahnya, sebagaimana Allah SWT berfirman: “Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa; janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (QS. Al-Ma’idah ayat 2)

Termasuk sikap tolong-menolong adalah memberikan dorongan, memudahkan jalan kebaikan, serta menutup jalan kejahatan dan permusuhan sedapat mungkin.

Di dalam hadits lain, Nabi Saw, bersabda,”Barangsiapa yang menegur ahli bid’ah, Allah memenuhi kalbunya dengan keamanan dan keimanan. Barang siapa yang merendahkan ahli bid’ah, Allah memberinya ketenangan pada hari yang sangat menakutkan. Barangsiapa yang menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran, berarti ia adalah khalifah Allah serta khalifah kitab dan Rasul-Nya di bumi”.

Hudzayfah r.a. berkata, “Akan datang suatu zaman kepada manusia ketika bangkai keledai lebih mereka sukai dari pada orang Mukmin yang menyuruh mereka berbuat kebaikan dan mencegah mereka dari kemunkaran.”

Musa a.s. berkata, “Tuhanku, apa balasan bagi orang yang mengajak saudaranya kepada kebenaran, menyuruhnya berbuat kebaikan, dan mencegahnya dari kemunkaran?”Allah menjawab,”Untuk setiap kata-katanya, aku menuliskannya sebagai ibadah sunnah untuknya dan Aku merasa malu untuk mengazabnya dengan api neraka.”

Di dalam hadits qudsi, Allah SWT berfirman,”Wahai anak Adam, janganlah kalian termasuk orang-orang yang menunda tobat, memanjangkan angan-angan, dan kembali ke akhirat tanpa amalan. Janganlah kalian menjadi orang yang mengucapkan perkataan orang-orang ahli ibadah, tetapi melakukan perbuatan orang-orang munafik. Janganlah kalian menjadi orang yang tidak merasa cukup jika diberi karunia; tidak bersabar jika tidak diberi; mencintai orang-orang sholeh tetapi tidak menjadi bagian dari mereka; membenci orang-orang munafik tetapi menjadi bagian dari mereka; menyuruh kebaikan tetapi tidak mengerjakannya; serta mencegah kejahatan tetapi tidak menghindarinya”.

Ali kw. Berkata, “saya pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Pada akhir zaman akan datang suatu kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka mengutip ucapan manusia terbaik (Nabi Saw.) tetapi tidak melewati tenggorokan mereka (tidak diamalkan). Mereka tercabut dari agama sebagaimana anak panah tercabut dari busurnya.”

Nabi Saw. bersabda, “Pada malam Isra ke langit, aku melihat orang-orang yang dipotong lidah mereka dengan pemotong dari api. Lalu aku bertanya, “Siapa mereka itu, Jibril?” mereka adalah para khatib dari umat anda yang menyuruh manusia berbuat kebajikan tetapi lupa pada diri mereka sendiri,” jawab Jibril.”

Tentang mereka, Allah SWT berfirman: “Mengapa kalian menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sementara kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membawa al-kitab? Tidakkah kalian berfikir?” (QS al-Baqarah ayat 44)

Artinya, mereka itu membaca kitab Allah, tetapi tidak mengamalkan isinya; mereka menyuruh orang lain bersedekah, tetapi mereka sendiri tidak bersedekah. Oleh karena itu, wajib bagi kaum mukmin untuk menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran, tetapi tidak melupakan diri mereka sendiri, sebagaimana Allah SWT berfirman. “Kaum Mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kebaikan , mencegah kemunkaran, menegakkan shalat…”(QS at-taubah ayat 71)

Kaum Mukmin berwatak menyuruh kebaikan. Jadi, orang yang meninggalkan watak itu bukan bagian dari mereka yang dijelaskan di dalam ayat ini. Allah mencela banyak kaum karena meninggalkan amar ma’ruf . Allah SWT berfirman: “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan kemunkaran yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”. (QS Al-Ma’idah ayat 79).

Abu ad-Darda r.a. berkata: “Apakah kalian menyuruh kebajikan dan mencegah kemunkaran atau Allah mengalahkan mereka malalui kekuasaan yang dolim, ketika orang tua tidak dihargai dan anak-anak tidak disayang? Mereka memohon kebaikan kalian, tapi kalian tidak memberi jawaban kepada mereka. Mereka meminta pertolongan, tetapi tidak ada yang menolong. Mereka memohon ampunan, tetapi tidak dimaafkan.

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Allah mengazab penghuni kampung yang disitu mereka mengerjakan delapan belas ribu perbuatan para Nabi. “Bagaimana bisa demikian tanya para sahabat. Mereka tidak membenci karena Allah, tidak menyuruh kebajikan, dan tidak mencegah kemunkaran, jawab Nabi Saw”.

Abu Dzar al-Ghifari r.a. meriwayatkan bahwa Abu Bakar As-Shiddiq r.a. bertanya, “Ya Rosulullah, apakah ada jihad lain selain memerangi orang-orang musyrik? “Ada wahai Abu Bakar. Allah memiliki para pejuang di bumi yang lebih utama dari pada para syuhada yang hidup dengan diberi rezeki dan berjalan di bumi. Allah membanggakan mereka kepada para malaikat langit dan menghias syurga untuk mereka seperti Ummu Salamah berhias untuk Rosulullah Saw jawab Rosulullah Saw. “Ya Rosulullah siapakah mereka itu? “Rosul menjawab, “Orang-orang yang menyuruh kebajikan, mencegah kemunkaran, serta mencinta dan membenci karena Allah.” Selanjutnya beliau bersabda,”Demi zat yang diriku dalam kekuasaan-Nya, hamba itu berada di kamar yang terletak diatas kamar-kamar lain diatas kamar-kamar para syuhada. Masing-masing kamar itu memiliki tiga ratus pintu dari yakut, zamrut, dan emas. Diatas setiap pintu ada cahaya. Laki-laki dari mereka menikahi tiga ratus ribu bidadari yang menyilaukan mata. Setiap kali memandang salah satunya, bidadari itu berkata, Ingatkah anda pada hari begini dan begitu ketika anda menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran?”Setiap kali memandangnya, bidadari itu menyebutkan tentang perintah untuk mengerjakan kebaikan dan mencegah kemunkaran.”

Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah bertanya kepada Musa as, Musa, Apakah engkau telah mengerjakan suatu amalan untuk-Ku? “Tuhanku saya telah shalat, puasa, dan bersedekah, bersujud karena-Mu, serta memuji-Mu, membaca kitab-Mu, dan berdzikir kepada-Mu. Jawab Musa as. Musa, didalam shalat ada pembelaan bagimu, di dalam puasa ada syurga untukmu, di dalam sedekah ada naungan untukmu, dan di dalam tasbih ada cahaya untukmu. Lalu amalan apa yang lain yang engkau kerjakan untuk-Ku?“Tuhanku, tunjukkan kepada saya amalan yang dapat saya kerjakan untuk-Mu,”Musa, apakah engkau menolong waliku? Apakah engkau memusuhi musuhku?“.Musapun mengerti bahwa amalan yang paling utama adalah mencinta dan membenci karena Allah serta membenci musuh-musuh-Nya.

Abu Ubaydah Ibnu Jarrah r.a. berkata, “Saya bertanya, Ya Rosulullah, syuhada mana yang paling mulia disisi Allah SWT? beliau menjawab, seseorang yang mendatangi pemimpin yang durhaka, menyuruhnya berbuat kebaikan dan mencegah kemunkaran, lalu terbunuh. Jika tidak terbunuh, qolam tidak bekerja setelah itu. Kalaupun hidup, ia tidak bergerak”.

Al-hasan Al-Bashri r.a meriwayatkan bahwa Rosulullah Saw bersabda, “Seutama-utama syuhada umatku adalah orang yang mendatangi pemimpin yang durhaka, memerintahkannya berbuat kebaikan dan mencegah kemunkaran, lalu ia terbunuh itulah syahid. Tempatnya di syurga adalah diantara tempat Hamzah dan Ja’far”.

Allah mewahyukan kepada Yusa Ibnu Nun a.s. “Aku akan membinasakan empat puluh ribu orang baik dan enam puluh ribu orang jahat diantara kaummu”. “Tuhanku tentang orang jahat saya maklum akan tetapi bagaimana dengan orang-orang yang baik, tanya Yusa” Mereka tidak membenci karena kebencian-Ku serta makan dan minum bersama orang-orang jahat.”

Anas r.a berkata,”Kami bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rosulullah, tidakkah kami memerintah kebaikan sebelum mengerjakan seluruhnya dan tidak mencegah kemunkaran sebelum menjauhi semuanya ?” Nabi Saw menjawab, “Perintahkanlah kebaikan walaupun kalian tidak mengetahui seluruhnya dan cegahlah kemunkaran walaupun kalian tidak menjauhi semuanya” jawab Nabi Saw.

Kemaksiatan Mempengaruhi Eksistensi Jamaah

Terkadang kemaksiatan seseorang atau sekelompok ikhwah bisa mengakibatkan seluruh bagian dari jamaah akan merasakan pengaruh buruknya, atau menjadi faktor kehancuran dan malapetaka, atau menjadi sebab hadirnya ujian yang sangat berat. Khususnya jika kemaksiatan itu berupa dosa besar atau dilakukan oleh jajaran qiyadah atau orang-orang yang seharusnya menjadi uswah dan qudwah. Allah Swt berfirman : “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu”.(Al-Anfal : 25).

Kalau kita perhatikan perang Uhud misalnya, kita akan mendapati bahwa sebab kekalahan kaum muslimin di sana adalah implikasi dari kemaksiatan yang dilakukan oleh sebagian pasukan pemanah. Jumlah mereka tidak lebih dari 4% keseluruhan pasukan kaum muslimin dalam peperangan itu. Apa hasil dari kemaksiatan itu ? 70 orang sahabat Rasul Swa terbunuh, .

Kalau kita perhatikan perang Uhud misalnya, kita akan mendapati bahwa sebab kekalahan kaum muslimin di sana adalah implikasi dari kemaksiatan yang dilakukan oleh sebagian pasukan pemanah. Jumlah mereka tidak lebih dari 4% keseluruhan pasukan kaum muslimin dalam peperangan itu. Apa hasil dari kemaksiatan itu ? 70 orang sahabat Rasul Swa terbunuh, perut mereka dicabik-cabik, telinga dan hidung mereka diiris, Rasul terluka, wajahnya yang mulia robek, gigi ruba’iyahnya pecah. Itupun Allah telah memaafkan mereka sebagaimana tertera di dalam Al-Qur’an,”Dan dia telah memaafkan kalin”.(Ali ‘Imran : 152). Seseorang pernah bertanya kepada Hasan Al-Bashri, “Bagaimana bisa dikatakan Allah telah memaafkan mereka, sedangkan tujuh puluh orang dari mereka terbunuh? Hasan menjawab,”Kalau seandainya Allah tidak memaafkan mereka, niscaya mereka semua tertumpas habis.”

Itu semua merupakan implikasi dan akibat buruk dari kemaksiatan. Al-Qur’an menjelaskan.”Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padalah kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah,”Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.”.(Ali ‘Imran : 165).

“Sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. (Ali ‘Imran : 152)

Hal seperti ini juga tampak jelas dalam perang Hunain, pada awal-awal peperangan kaum muslimin sempat kocar-kacir akibat segelintir orang yang ‘ujub dan lupa bahwa kemenangan itu semuanya hanya datang dari Allah. Padahal mereka termasuk at-Thulaqa’, orang-orang yang baru saja masuk Islam. Mereka mengatakan,”Hari ini kita tidak mungkin kalah karena jumlah kita banyak”. Buahnya, seperti yang dijelaskan oleh Al-Qur’an.”Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang yang beriman) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dan bercerai-berai. (at-Taubah:25)

Dari sini saya sampaikan, sebuah jamaah yang ingin eksis di muka bumi hendaklah memberikan perhatian yang penuh terhadap urusan mencegah kemunkaran yang ada di dalam tubuh jamaah, melebihi perhatiannya terhadap urusan mencegah kemunkaran yang ada di masyarakat tempat jamaah ini berada. Sungguh jika sebuah jamaah telah sukses untuk menyelesaikan yang pertama, niscaya ia akan lebih sukses lagi untuk menyelesaikan yang kedua. Dan saya tegaskan, sekali-kali sebuah jamaah tidak akan sukses untuk menyelesaikan yang kedua kecuali jika telah sukses menyelesaikan yang pertama.

Sebelum saya mengakhiri pembicaraan tentang kemaksiatan ini, saya ingin mengingatkan adanya satu masalah yang sangat penting; saya tidak memaksudkan pembicaraan saya di muka untuk kemaksiatan lahir saja, namun saya maksudkan juga untuk yang batin. Apalagi yang terakhir ini seperti riya’, ujub, iri, cinta kekuasaan dan sombong, cinta dunia bisa jadi jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan kemaksiatan lahir.

Kamis, 11 Juni 2009

Sholawat Berbau Syirik

AWAS !! SHOLAWAT BERBAU SYIRIK

SHOLAWAT NARIYAH

Sholawat nariyah sering dibaca oleh sebagian kalangan kaum muslimin. Dipercayai oleh sebagian pihak bahwa sholawat ini punya kasiat luar biasa. Sholawat nariyah yang sangat terkenal itu bunyinya sebagai berikut :

اللهم صل صلاة كاملة وسلام سلام تاما على سيد نا محمد الذي تنحل به العقد وتنفرج به الكرب وتنال به الرغائب وتقضى به الحوائج ويستسقى الغمام بوجهه الكريم عدد كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك

“Wahai Allah! Curahkanlah rahmat yang sempurna dan kesejahteraan yang sempurna kepada sayyidina Muhammad sebanyak jumlah kedipan mata, hembusan nafas dan sebanyak seluruh apa yang Engkau ketahui. Yang dengannya segala ikatan menjadi lepas (segala kesulitan akan terselesaikan), segala kesedihan akan lenyap karenanya, dan dengannya segala cita-cita tercapai, dengannya pula segala kebutuhan akan terpenuhi, dan dengan wajahnya mulia awan berubah menjadi hujan.”

Sholawat untuk Rasulullah SAW tersebut mengandung kalimat syirik. Kalau kita mau mengkaji berbagai buku dan kitab untuk melacak sumber dan asal-usulnya maka akan sia-sia. Asal-usulnya gelap, kegelapannya seakan sepekat kegelapan lumpur kesyirikan yang dikandungnya. Dalam buku-buku hadits, fikih, dan tasawuf manapun tidak ditemukan siapa pencetus dan pencipta sholawat yang telah membodohi jutaan orang awam tersebut.

Kalau kita perhatikan dari sholawat tersebut maka akan jelas ada bau kesyirikan yang jelas, “ Yang dengannya segala ikatan menjadi lepas (segala kesulitan akan terselesaikan) “ . Berarti bukan karena Allah tapi karena Rasulullah saw. “segala kesedihan akan lenyap karenanya”. Jadi bukan karena pertolongan, rahmat, atau karunia Allah, dst. Coba dicerna dan pahami.

Sholawat tersebut mengandung kalimat yang bertentangan dengan ayat al-Qur’an, :

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” Surat az-Zumar:38

“Katakanlah: " Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya”.Surat Saba:22

YA RABBI BIL MUSHTHAFA

Ada syair lain yang juga sangat akrab di berbagai daerah. Sering dilantunkan di masjid-masjid atau surau-surau dengan suara merdu bersama-sama atau sendirian. Kalau kita pahami artinya maka syair tersebut pun tidak terlepas dari unsur kesyirikan. Coba kita perhatikan sejenak syair tersebut :

يارب بالمصطف بلغ مقاصدنا واغفرلنا مامضى ياواسع الكرم

“Wahai Tuhanku dengan al-Mustafa (salah satu sebutan Rasulullah saw) jadikanlah tujuan-tujuan kami tercapai dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lampau wahai Tuhan yang luas kemurahan-Nya”

Letak kesyirikan syair tersebut adalah menjadikan Rasulullah saw sebagai wasilah untuk mendapat pencapaian cita-cita dan ampunan. Rasulullah saw, para sahabat, para imam madzhab yang empat dan seluruh ulama shaleh tidak pernah mempraktikkan atau mengajarkan doa semacam itu. Doa dengan memakai perantaraan kehormatan dan derajat orang yang sudah mati.

SHOLAWAT BADAR

Sholawat dan salam Allah semoga terlimpah kepada Thaha, sang utusan Allah

Sholawat dan salam dari Allah semoga terlimpah kepada Yasin sang kekasih Allah

Kami bertawasul dengan nama Allah dan Rasulullah saw sang pemberi petunjuk

Juga dengan setiap mujahid di jalan Allah, dengan pahlawan Badar pula wahai Allah

Wahai Tuhanku! Selamatkan umat dari kerusakan, murka, kesedihan, dan bencana karena pahlawan Badar, wahai Allah!

صلاة الله سلام الله على طه رسول الله

صلاة الله سلام الله على يس حبيب الله

تو سلنا ببسم الله وبا لهادي وسول الله

وكل مجاهد لله بأهل البدر ياالله

إلهي سلم الأمة من الآفات والنقمة

ومن هم ومن غمة بأهل البدر ياالله

Dan syair selanjutnya masih cukup panjang, yang kesemuanya mengandung unsur syirik

Berdoa dengan cara bertawasul kepada Rasulullah saw dan para pahlawan tidak dijumpai dalil. Perintahnya adalah berdoa langsung sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an :

“ Dan Aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan Aku akan berdoa kepada Tuhanku, Mudah-mudahan Aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku". Maryam : 48

“Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” al-jin : 18

Bertawasul dengan orang yang sudah mati tidak pernah dilakukan oleh para Nabi, shahabat, maupun para ulama salaf dan imam madzhab. Bahkan menurut Komisi Tetap untuk Penelitian Ilmiah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia kebiasaan tawasul semacam ini termasuk syirik

Semoga apa yang saya sampaikan ini menjadi bahan renungan dan kita ini terlepas dari perilaku-perilaku syirik yang menyebabkan kita terjerumus di neraka. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah-Nya pada kita dan memberikan kemudahan serta kekuatan pada kita untuk mengetahui yang benar maupun yang bathil.

Abdullah al-Muttaqin

Pertolongan

Kapankah Pertolongan itu Datang?

Pertolongan Allah itu mahal dan tidak diberikan kepada sembarang muslim. Pertolongan dari Allah hanya diberikan kepada satu thaifah (kelompok) khusus yang memiliki sifat-sifat tertentu. Thaifah ini telah dipersiapkan oleh Allah untuk mendapatkan pertolongan dari–Nya dan untuk melaksanakan perintah-Nya. Allah mentarbiyah mereka dengan tarbiyah khusus sehingga nantinya mereka layak dikuasakan di muka bumi dan sanggup untuk menegakkan dien dengan segala keistimewaan dien itu. Thaifah yang akan mendapatkan pertolongan inilah thaifah yang disebut oleh Rasulullah saw dalam sabdanya, “Akan senantiasa ada satu thaifah dari umatku yang berdiri kukuh di atas kebenaran. Orang-orang yang menghinakan mereka tidaklah mendatangkan mudlarat bagi mereka. Sampai tiba keputusan Allah, mereka tetap dalam keadaan itu”.(HR. al-Bukhariy, Muslim, at-Tirmidziy, Ibnu Majah). Dalam memenangkan pertempuran melawan musuh, thaifah yang berdiri kukuh di atas kebenaran ini tidak pernah mendapatkan kemenangan itu dikarenakan jumlah mereka banyak. Sebaliknya, jumlah mereka selalu sedikit. Dan sepanjang zaman, ahlul-iman dapat mengalahkan musuh-musuh mereka bukan dengan jumlah dan bekal logistik mereka, tetapi mereka dapat memenangkan dengan berbekalkan dien ini. Dien yang dengannya Allah memuliakan mereka, seperti yang dikatakan oleh ‘Abdullah bin Rawahah dalam perang Mut’ah.”Kita tidak memerangi manusia dengan bilangan, kekuatan, dan jumlah kita. Kita hanya memerangi mereka karena dien ini. Dien yang Allah memuliakan kita dengannya.”(Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq).

Bahkan, jika anda memperhatikan semua kancah peperangan antara kaum muslimin dengan musuh-musuh mereka Anda akan mendapati jumlah dan perbekalan kaum muslimin jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah dan perbekalan musuh. Kebenaran ada pada Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau menulis surat kepada panglima perangnya,’Amru bin ‘Ash. Bunyinya,”Semoga keselamatan senantiasa dilimpahkan kepadamu! Suratmu yang mengabarkan bahwa Romawi telah mengumpulkan pasukannya yang jumlahnya sangat banyak telah sampai. Sesungguhnya Allah tidak memberikan kemenangan kepada kita kala bersama Nabi-Nya saw dengan banyaknya perbekalan dan jumlah pasukan. Dahulu, kita pernah berperang bersama Rasulullah saw sedangkan yang kita miliki hanyalah dua ekor kuda. Adapun kita sendiri, waktu itu hanya berjalan di belakang onta. Dalam perang Uhud yang disertai Rasulullah saw pun kami hanya membawa seekor kuda yang ditunggangi oleh beliau saw. Meski demikian, Allah tetap memenangkan dan menolong kita atas orang-orang yang menyelisihi kita. Juga, ketahuilah bahwa manusia yang paling taat kepada Allah adalah orang yang paling benci kepada kemaksiatan. Maka, taatilah Allah dan perintahkan sahabat-sahabatmu untuk mentaatinya!(Diriwayatkan oleh at-Thayalisiy dari al-Waqidiy dari ‘Abdullah bin ‘Amru ra).

Sungguh sunnatullah itu tidak berlaku bagi orang-orang tertentu saja. Baik untuk kemenangan atau pun kekalahan, keduanya ada sebabnya. Barangsiapa diberi taufiq oleh Allah berupa sebab-sebab kemenangan, niscaya Allah akan memenangkannya. Begitu pun sebaliknya, barangsiapa tidak diberi taufiq oleh Allah hendaknya ia tidak mencela selain mencela dirinya sendiri. Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’:123 Allah berfirman:”(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya diberi pembalasan dengan kejahatan itu. Jika sebuah jamaah Islam menghajatkan kemenangan atas musuh-musuhnya, maka ia harus memenuhi sebab-sebab datangnya kemenangan. Sama seperti yang dilakukan oleh para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Memerinci sebab-sebab kemenangan secara detail akan menghabiskan banyak halaman. Karenanya saya hanya akan menyebutkan secara global, sebab-sebab yang melatarbelakangi seluruh kemenangan agung yang dicapai oleh para sahabat dan para tabi’in.Tersebut dalam sirah, bahwa musuh-musuh para sahabat itu tidak pernah mampu bertahan lama di dalam peperangan melawan mereka. Bahkan ketika Heraclius mendengar kabar bahwa Romawi telah bertekuk lutut, ia berkata,”Celaka kalian! Coba ceritakan tentang musuh yang memerangi kalian itu! Bukankah mereka juga manusia seperti kalian?!”Mereka menjawab,”Benar…”. “Jumlah kalian lebih banyak ataukah sebaliknya?”,tanyanya lagi.”Bahkan jumlah kami berlipat-lipat lebih banyak daripada jumlah mereka di dalam setiap kancah.”, jawab mereka.”Lalu, ada apa dengan kalian sehingga kalian menjadi pecundang?,”Salah seorang pembesar mereka menjawab,”Karena mereka semua bangun menunaikan shalat malam, mereka berpuasa di siang hari, mereka menepati janji, mereka beramar ma’ruf nahi munkar, serta mereka saling tolong menolong. Juga karena kami semua meminum arak, berzina, melanggar yang haram, menyelisihi janji, berbuat ghashab, berbuat zhalim, menyebarkan perseteruan, meninggalkan hal-hal yang diridlai oleh Allah, serta membuat kerusakan di muka bumi.” “Benar yang kamu katakan.”, komentar Heraclius.(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Marwan al-Malikiy, Ibnu ‘Asakir dari Ibnu Ishaq).

Dengan kecerdasannya seorang pembesar Romawi telah menyimpulkan tentang sebab-sebab kemenangan dan kekalahan. Ia menjelaskan bahwa pasukan muslimin telah memenuhi semua sebab untuk mendapatkan kemenangan, total. Sebaliknya, Romawi telah memenuhi semua sebab untuk mendapatkan kekalahan, total. Seorang mata-mata Romawi yang dikirim untuk mencari tahu kabar dan keadaan kaum muslimin, menguatkan pernyataan di atas. Waktu itu menjelang penaklukan kota Syam, sepulang dari memata-matai pasukan muslimin ia melaporkan semuanya. Ia berkata,”Mereka adalah pendeta di waktu malam dan ahli menunggang kuda di siang hari. Jika salah seorang anak raja mereka mencuri, mereka tetap memotong tangannya. Jika ia berzina ia pun akan dirajam, demi menegakkan kebenaran pada diri mereka.”

Ada juga salah seorang pengikut setia Thulaihah al-Asadiy yang menceritakan tentang sebab-sebab kemenangan dan kekalahan. Ketika Thulaihah melihat banyak sekali pasukannya yang menjadi pecundang di medan perang, ia berkata,”Celaka! Apa yang membuat kalian kocar-kacir begini?!”Salah seorang pengikut setianya itu menjawab,”Saya beritahukan kepadamu apa yang membuat kita kalah total. Sesungguhnya tidak seorang pun dari mereka yang menginginkan sahabatnya terbunuh lebih dahulu. Kami benar-benar mendapati suatu kaum yang semuanya ingin kematiannya datang lebih dahulu daripada kematian sahabatnya. (Diriwayatkan oleh Walid bin Muslim dari Yahya bin Yahya al-Ghassaniy).

Ada pula seorang mata-mata Romawi yang diutus oleh penguasa Damaskus. Ketika itu pasukan muslimin datang dari arah Yordania. Mata-mata itu berkata,”Saya datang kepada Anda usai berjumpa dengan kaum yang tubuh mereka kurus kering, mereka mengendarai kuda-kuda pilihan, di malam hari mereka bagai pendeta, dan di siang hari mereka adalah penunggang kuda nan tangkas…Seandainya Anda mengajak bicara orang yang ada di samping Anda, niscaya ia tidak memahami apa yang mereka katakan karena begitu gegap gempita suara mereka oleh bacaan al-Qur’an dan dzikir.” Lalu penguasa Damaskus itu menoleh kepada sahabat-sahabatnya seraya berkata,”Mereka mengamalkan sesuatu yang tidak mungkin kalian mampu melakukannya.” Dalam Tarikh at-Thabariy disebutkan,”Ketika kaum muslimin menaklukan Madain mereka mengumpulan semua harta rampasan perang. Ada seorang laki-laki membawa wadah untuk mengumpulkannya lalu ia serahkan kepada yang bertanggungjawab untuk dibagi. Orang-orang bertanya kepadanya,”Wow, kami belum pernah melihat yang seperti itu! Dari apa yang kami kumpulkan, tidak ada sesuatu pun yang senilai dengannya atau bahkan mendekatinya. Apakah kamu mengambilnya barang sebuah?’Laki-laki itu menjawab,’Demi Allah, jika bukan karena Allah aku tidak akan mengumpulkannya.’ Maka orang-orang pun mengerti bahwa orang itu bukan sembarang laki-laki. Mereka bertanya,’Siapakah Anda ini?’ Laki-laki itu menjawab,’Demi Allah, aku tidak akan memberitahukan kepada kalian karena aku khawatir akan pujian dan tidak akan kuberitahukan kepada kalian karena aku khawatir akan sanjungan. Sungguh, aku memuji Allah dan ridla terhadap pahala dari-Nya.’ Lalu mereka mnyuruh seseorang untuk membuntutinya sampai ketika ia telah berkumpul dengan teman-temannya, suruhan itu bertanya kepada mereka. Laki-laki itu adalah ‘Amir bin ‘Abdu Qais. At-Thabariy juga menyebutkan,”Ketika pedang, ikat pinggang, dan mahkota Kisra diserahkan kepada ‘Umar ra beliau berkata,’Sungguh, kaum yang menyerahkan semua ini adalah kaum yang benar-benar beramanah.’Mendengar hal itu ‘Ali ra berkata,’Sesungguhnya Anda bersikap ‘iffah (menjaga diri) sehingga semua rakyat pun memilih sikap yang sama.

KOKAM

KOKAM